Penyerahan bantuan dari seniman Jakarta dan The Atjeh Connection Foundation kepada seniman Gayo di Buntul Sara Ine Desa Seni Antara, Kecamatan Permata Bener Meriah. Desa Seni Antara salah satu daerah yang remuk oleh bencana hidrometreoligi yg melanda Tanah Gayo. Waspada.id / Ist
TAKENGON (Waspada.id) : Di tengah duka pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah, secercah harapan datang dari jalur yang kerap luput dari sorotan: para seniman untuk para seniman. Sejak 30 Desember 2025, Tim Desember Kopi Gayo yang dipimpin Fikar W. Eda dan Devie Matahari mendatangi para budiman seni—pelaku seni tradisi maupun modern—yang ikut terdampak bencana.
Bantuan itu bukan sekadar angka dan logistik. Ia lahir dari rasa senasib dan sepenanggungan. Dana dihimpun melalui penggalangan yang diinisiasi Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bersama Komunitas Desember Kopi Gayo, dengan dukungan Dewan Kesenian Jakarta, Jakpro, serta berbagai komunitas seni Jabodetabek. Total dana yang terkumpul mencapai Rp27 juta—sebuah gotong royong lintas wilayah dan lintas disiplin seni.
Tak hanya dana tunai, uluran tangan juga datang dalam bentuk kebutuhan pokok. The Atjeh Connection Foundation pimpinan Amir Faisal Nek Muhammad dan Anita Amir Faisal menyumbangkan beras sebanyak satu ton.
Bantuan ini disalurkan kepada sanggar-sanggar seni dan para seniman yang selama ini menggantungkan hidup pada panggung, latihan, dan ruang-ruang kebudayaan yang turut terdampak bencana.
“Alhamdulillah, bantuan ini sudah kami salurkan kepada para seniman. Mereka juga bagian dari korban bencana hidrometeorologi. Ini adalah bantuan dari seniman untuk seniman,” ujar Devie Matahari.
Kalimat sederhana itu memuat makna dalam: bahwa seni bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga solidaritas.
Rasa haru terpancar dari para penerima. Maestro didong, Ceh M Din, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian para seniman di Jakarta. Bantuan tersebut, baginya, bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menjadi penguat batin bahwa tradisi yang mereka jaga tidak berdiri sendiri.
Ucapan serupa disampaikan Azzam Pegayon, pimpinan Sanggar Pegayon Bener Meriah, yang juga dikenal sebagai relawan kebencanaan dan penggerak budaya. Baginya, bantuan ini adalah energi baru untuk terus merawat seni di tengah keterbatasan.
“Ketika alam menguji, kebudayaan justru saling memeluk,” katanya.
Di Gayo, seni adalah denyut kehidupan. Dan melalui langkah-langkah sunyi para seniman ini, terbukti bahwa empati dapat menjelma menjadi aksi—menguatkan yang rapuh, menjaga yang nyaris terpinggirkan, dan memastikan bahwa suara budaya tetap hidup, bahkan di tengah bencana. (id87)











