Aceh

Korban Banjir Bandang di Pedalaman Bireuen, Meugang Di Tenda Pengungsian

Korban Banjir Bandang di Pedalaman Bireuen, Meugang Di Tenda Pengungsian
Korban banjir bandang di Gampong Salah Sirong Jeumpa, sedang duduk di tenda pengungsian, Selasa (17/2).Waspada.id/Fauzan
Kecil Besar
14px

BIREUEN (Waspada.id): Sejumlah korban banjir bandang dan tanah longsor di Gampong Salah Sirong Kecamatan Jeumpa, menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah merayakan hari meugang di tenda pengungsian. Meugang merupakan hari sakral di Aceh dan sudah menjadi tradisi sejak turun temurun.

Konban banjir bandang di Gampong Salah Sirong Nasir Ahmat, 45, yang bersama istri, Adiana, di tenda pengungsian kepada Waspada.id Selasa (17/2) mengatakan, mereka terpaksa tinggal di tenda pengungsi, karena rumah mereka tempati sebelumnya telah dihantam banjir besar yang terjadi akhir November 2025 di Bireuen.

“Setelah kejadian banjir saat itu, saya beserta istri dan empat saya sempat menumpang di rumah warga. Sejak ada tenda, baru kami tinggal kemari di tenda pengungsian. Iya seperti ginilah keadaan kami merayakan hari meugang di tenda pengungsian,” sebut Nasir dengan tatapan hampa.

Menurut Nasir, hampir tiga bulan pasca banjir, hingga saat ini dirinya belum mendapatkan Dana Tunggu Hunian (DTH) seperti yang telah dijanjikan oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen. “Saya belum mendapatkan DTH hingga hari ini. Panas sekali di tenda, anak-anak sudah beberapa kali sakit, untung ada TNI seperti kemarin, begitu sakit langsung saya lapor dan diperiksa lalu diberikan obatnya. Bila terik matahari panas, itu memang benar-benar panas di tenda, kadang, kami harus berteduh di balai,” jelas Muhammad Nasir, yang diiyakan oleh istrinya.

Di tempat yang sama korban banjir bandang lain Rusli Ali juga menyampaikan, tenda tersebut ditempati 12 kepala keluarga. Mereka tidak mungkin terus-terusan tinggal di tenda pengungsian, maka untuk itu dia berharap ada satu kejelasan mengenai dibangunnya hunian tetap dari pemerintah.

Dia mengaku tidak enak tinggal di tenda, korban banjir di desanya tersebut banyak, sebagian ada sudah pulang ke tempat keluarganya.

“Kami penggungsi saat ini yang sangat terpenting yaitu rumah. Ini huntara tidak ada huntap juga belum ada, maka kami sekarang ini sangat mengharapkan rumah untuk bisa langsung ditempati, jangan terus menerus tinggal di lingkungan masjid, karena tempat anak mengaji dan tempat ibadah. Ini sepertinya bukan meugang saja di sini, dalam bulan puasa hingga hari raya juga masih di sini dan hampir tiga bulan kondisinya seperti ini,” terang Rusli. (Id73)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE