PIDIE JAYA (Waspada.id): Banjir kembali melanda Kabupaten Pidie Jaya (Pijay-red), malam terasa mencekam, sembilan gampong terendam hingga satu meter akibat luapan Krueng Meureudu.
Di saat yang sama, pelantikan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) tetap digelar, di tengah warga mengungsi dan harap yang kian pudar.
Ketua Aliansi Pemuda Pidie Jaya, Dedi Saputra, SE, Rabu (8/4/2026), melaporkan, banjir mulai terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Air yang meluap dari Krueng Meureudu dengan cepat menggenangi permukiman warga.
“Dari jam 20.00 WIB, akibat luapan Krueng Meureudu, sebagian besar wilayah Meureudu dan Meurah Dua kembali tergenang. Di beberapa titik, ketinggian air sudah mencapai sekitar 1 meter,” ujar Dedi.
Dedi menambahkan, warga kini banyak yang telah mengungsi ke titik-titik aman yang tidak tergenang banjir. “Kebanyakan masyarakat keluar dari gampong menuju titik aman yang tidak tergenang. Mereka mengungsi ke rumah kerabat maupun tempat yang lebih tinggi,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh tingginya curah hujan di wilayah hulu atau pegunungan, yang kemudian menyebabkan debit air sungai meningkat drastis.
“Hujan deras terjadi di kawasan pegunungan, kemudian debit air sungai meluap. Kondisi DAS Krueng Meureudu yang masih sangat dangkal membuat air tidak tertampung dengan baik, sehingga meluap ke permukiman warga,” jelas Dedi.
Menurutnya, persoalan pendangkalan sungai menjadi faktor utama yang memperparah kondisi banjir yang terus berulang setiap tahun.
“Ini persoalan lama yang belum tertangani secara serius. Kalau tidak ada normalisasi sungai, banjir seperti ini akan terus terjadi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa peristiwa banjir ini terjadi bersamaan dengan agenda penting pemerintah daerah.
“Dan malam ini juga bertepatan dengan pelantikan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) di Coet Trieng. Kita berharap pemerintah tetap memberi perhatian serius terhadap kondisi masyarakat yang sedang terdampak banjir,” tambahnya.
Adapun gampong yang terdampak banjir meliputi Gampong Meunasah Krueng, Gampong Beurawang, kawasan Pante Geulima, Gampong Meunasah Bie, Gampong Meunasah Balek, Gampong Meunasah Lhok, Gampong Blang, Gampong Blang Awe, serta Gampong Meunasah Mancang.
Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Sejumlah ruas jalan utama tidak dapat dilalui kendaraan akibat genangan air, sementara rumah-rumah warga ikut terendam hingga ke dalam.
Salah seorang warga Gampong Beurawang, Sulaiman, 45, mengaku banjir datang dengan cepat sehingga warga tidak sempat menyelamatkan seluruh barang milik mereka.
“Air naik sangat cepat, dalam waktu singkat sudah masuk ke dalam rumah. Kami hanya sempat menyelamatkan barang-barang penting saja,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Nuraini, 38, yang mengatakan dirinya bersama keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena khawatir air terus bertambah.
“Anak-anak kami sudah kami evakuasi ke tempat yang lebih aman. Air di dalam rumah sudah hampir setinggi pinggang,” katanya.
Pantauan di lapangan, warga terlihat berjibaku menyelamatkan perabot rumah tangga seperti kasur, lemari, dan peralatan elektronik ke tempat yang lebih tinggi.
Sebagian warga memilih bertahan di rumah dengan membuat tempat darurat di bagian atas rumah, sementara lainnya mengungsi secara mandiri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait korban jiwa. Namun kerugian material diperkirakan cukup besar, mengingat banjir merendam rumah warga hingga mencapai satu meter.
Di tengah malam yang basah dan langit yang belum reda, warga hanya bisa bertahan dalam cemas yang panjang. Banjir datang berulang, harapan pun perlahan meredup, menanti hadirnya langkah nyata agar derita tidak terus berulang.(Id69)










