Aceh

Laba BUMG Tumbuh, Fiskal Menguat, BUMG Tangguh

Laba BUMG Tumbuh, Fiskal Menguat, BUMG Tangguh
Penyaluran paket sembako kepada warga Gampong Jurong Krueng Seumideun sebagai realisasi laba BUMG Tahun Buku 2025 yang ditetapkan sebagai Pendapatan Asli Gampong. waspada.id/Ist
Kecil Besar
14px

Penetapan laba Tahun Buku 2025 BUMG Makmur Sejahtera sebagai Pendapatan Asli Gampong (PAG) Jurong Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, bukan sekadar kabar administratif. Ia menyentuh jantung politik anggaran di tingkat Gampong (desa), siapa yang menguasai sumber daya, dan untuk siapa ia dibelanjakan.

Selama ini, desa-desa termasuk di Pidie hidup dalam orbit dana transfer pusat. Dana Gampong dan Alokasi Dana Gampong menjadi tulang punggung pembiayaan. Ketergantungan ini membentuk pola pembangunan yang pasif. Desa menunggu, lalu membelanjakan. Dalam konteks itu, laba BUMG yang masuk ke PAG adalah upaya memutus siklus ketergantungan

Camat Peukan Baro, Iswadi, menyebut langkah tersebut sebagai indikator kematangan tata kelola ekonomi gampong. “BUMG harus menjadi motor penggerak ekonomi dan sumber pembiayaan pembangunan. Kalau dikelola profesional, dampaknya langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Realisasi laba pada 2026 diwujudkan melalui penyaluran paket Ramadhan kepada 92 kepala keluarga. Setiap paket berisi: sirup 1 botol, gula 1 kilogram, minyak goreng 1 liter/kilogram, dan Susu 1 kaleng. Distribusi dilakukan berdasarkan daftar penerima manfaat yang telah diverifikasi, guna memastikan bantuan tepat sasaran.

BUMG Makmur Sejahtera pada 2025 juga tercatat sebagai salah satu penyalur pupuk bersubsidi pertama di Kabupaten Pidie. Distribusi pupuk bukan sekadar aktivitas dagang, ia menyentuh jantung ekonomi lokal: sektor pertanian. Akses pupuk yang lebih tertib membantu petani menjaga produktivitas dan menekan biaya, sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di tingkat gampong.

Direktur BUMG, Haris, mengatakan pengelolaan usaha dilakukan secara terencana dengan orientasi keberlanjutan. “Keuntungan usaha bukan sekadar angka di laporan, tetapi harus memberi efek ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Keuchik Jurong Krueng Seumideun, Gunawan, menegaskan keputusan memasukkan laba ke dalam PAG merupakan hasil musyawarah bersama. “Laba ini memperkuat kapasitas pembangunan karena bersumber dari usaha kita sendiri,” ujarnya.

Ketua Tuha Peut, M. Saleh, mengingatkan pentingnya fungsi pengawasan agar pengelolaan laba tetap sesuai aturan dan tidak melenceng dari kepentingan publik. Transparansi, menurutnya, menjadi fondasi menjaga kepercayaan masyarakat.

Laba 2025 mungkin baru satu capaian awal. Namun jika konsistensi tata kelola dijaga, pertumbuhan laba bukan hanya memperkuat kas gampong, melainkan juga meneguhkan posisi BUMG sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi lokal. Ketika laba tumbuh, fiskal menguat, dan BUMG kian tangguh, desa pun selangkah lebih dekat pada kemandirian yang berkelanjutan.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE