DALAM beberapa hari terakhir, Langsa seperti dipaksa bercermin. Dua kali demonstrasi terjadi dalam waktu berdekatan, pertama di Kantor Wali Kota dan Kantor Kejaksaan Negeri, lalu kembali berlanjut di Kantor Kejaksaan Negeri.
Isu yang diangkat tidak sederhana: bantuan untuk penyintas banjir yang dipertanyakan, dugaan korupsi yang mencuat, hingga tuntutan agar Wali Kota dan Sekretaris Daerah mundur dari jabatannya.
Nada publik pun berubah. Lebih keras, lebih cepat, dan cenderung lebih menghakimi.
Dalam situasi seperti ini, sangat mudah untuk sampai pada satu kesimpulan: bahwa Langsa sedang tidak baik-baik saja, bahkan menuju kegagalan.
Namun, benarkah demikian?
Saya tidak menolak kegelisahan itu. Ia nyata, dan dalam batas tertentu, perlu.
Tetapi saya juga tidak tergesa-gesa untuk ikut dalam arus kesimpulan yang terlalu cepat.
Justru dalam suasana seperti ini, saya melihat apa yang terjadi di Langsa bukan sebagai tanda keruntuhan, melainkan sebagai tanda bahwa sebuah pemerintahan sedang berada dalam ujian yang sesungguhnya.
Di bawah kepemimpinan Jeffry Sentana S Putra bersama Sekretaris Daerah Dra Suhartini MPD, tekanan publik kini datang lebih terbuka dan lebih intens.
Dan itu, dalam konteks tertentu, bukan sepenuhnya kabar buruk.
Mengapa saya tidak tergesa-gesa?
Pertama, karena yang menguat hari ini adalah keberanian publik untuk mengoreksi.
Demonstrasi terkait bantuan penyintas banjir menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi mau menerima begitu saja setiap kebijakan.
Ketika ada dugaan ketidaktepatan atau ketidakadilan, respons muncul cepat dan terbuka.
Isu dugaan korupsi pun tidak lagi beredar dalam bisik-bisik, tetapi langsung didorong ke ruang publik dan aparat penegak hukum.
Ini memang menciptakan kesan gaduh. Namun di balik kegaduhan itu, ada satu hal penting: mekanisme kontrol sedang bekerja.
Kedua, karena tuntutan publik semakin konkret dan tidak lagi normatif.
Yang disuarakan bukan sekadar kritik umum, tetapi hal-hal spesifik, transparansi penyaluran bantuan, akuntabilitas penggunaan anggaran, dan integritas pejabat publik.
Bahkan tuntutan mundur dari jabatan menjadi simbol dari akumulasi ketidakpercayaan.
Tekanan seperti ini memang keras, tetapi juga memaksa pemerintah untuk tidak lagi bekerja secara biasa-biasa saja. Setiap kebijakan harus bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Ketiga, karena stabilitas internal pemerintahan masih menjadi penyangga penting.
Di tengah tekanan tersebut, belum terlihat adanya fragmentasi serius di dalam tubuh pemerintahan. Ini bukan hal kecil. Dalam banyak pengalaman politik, keruntuhan pemerintahan sering kali dimulai dari perpecahan internal, bukan dari tekanan eksternal semata.
Selama struktur pemerintahan masih solid, maka tekanan dari luar masih dapat dikelola menjadi dorongan untuk memperbaiki diri.
Keempat, karena ujian kepemimpinan justru lahir dari situasi seperti ini.
Isu bantuan banjir dan dugaan korupsi bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak dibangun dari ketiadaan masalah, melainkan dari cara menghadapi masalah itu sendiri.
Di sinilah kepemimpinan diuji: apakah memilih defensif, atau justru membuka diri; apakah menghindar, atau berani melakukan koreksi; apakah diam, atau menjelaskan dengan jujur kepada publik.
Kelima, karena tidak semua kegelisahan harus berujung pada kesimpulan ekstrem.
Tuntutan mundur adalah bagian dari ekspresi demokrasi, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Setiap persoalan memiliki jalur penyelesaian, baik melalui evaluasi internal, mekanisme politik, maupun proses hukum.
Kehati-hatian menjadi penting agar dorongan perubahan tidak berubah menjadi ketidakstabilan yang justru merugikan masyarakat itu sendiri.
Di situlah saya berdiri.
Saya tidak menutup mata terhadap apa yang terjadi.
Persoalan bantuan penyintas banjir harus dijawab dengan transparansi yang jelas.
Dugaan korupsi harus ditindaklanjuti secara serius dan terbuka. Kepercayaan publik tidak bisa dipulihkan dengan retorika, tetapi dengan tindakan nyata.
Namun, saya juga tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Langsa sedang runtuh.
Apa yang kita lihat hari ini adalah sebuah kota yang sedang bergerak, dengan segala ketegangan, kritik, dan tuntutannya.
Sebuah pemerintahan yang sedang berada di bawah sorotan, dipaksa untuk menjawab, dan diuji untuk membuktikan dirinya.
Dan dalam banyak hal, ujian seperti inilah yang menentukan arah ke depan.
Karena itu, selama ruang untuk memperbaiki diri masih ada, saya memilih untuk tetap percaya: Langsa tidak sedang runtuh, ia sedang diuji.
Ibnu Sa’dan










