Di ruang paripurna yang resmi dan penuh arti, keputusan diambil bukan sekadar seremonial yang sunyi, tetapi ikhtiar kolektif menjaga amanah negeri. Selasa, (31/03/2026), di Ruang Rapat Utama DPRK Pidie, ketukan palu itu bukan hanya tanda sahnya nama, ia adalah tanda dimulainya tanggung jawab yang nyata.
Dipimpin Ketua DPRK Pidie, Anwar Sastra Putra, SH, rapat berjalan tertib dan khidmat. Pantauan Waspada.id menangkap suasana yang tidak gaduh, tidak pula gaduh dibuat-buat. Yang hadir adalah kesadaran, setiap keputusan hari ini akan diuji oleh waktu esok hari.
Lima komisioner terpatri, bukan sekadar tercatat, tetapi dititipkan dalam amanah yang berat. M. Jakfar, SE, Idrus, S.Ag, Said Usman, Dahnial, dan Samsul Bahri, SH.
Mereka bukan hanya calon tetap, tetapi harapan yang diikat dalam kepercayaan umat.
Di belakang mereka, ada pula barisan cadangan, nama-nama yang disiapkan sebagai penyangga jika keadaan berubah arah. Sebab dalam tata kelola yang matang, kesiapan bukan pilihan, melainkan keharusan. (Nama calon cadangan sebagaimana tertuang dalam dokumen resmi DPRK Pidie).
Baitul Mal bukan sekadar lembaga,ia adalah denyut dari kepercayaan. Di sana, zakat bukan angka, tetapi doa; infak bukan nominal, tetapi harapan; sedekah bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan antara yang mampu dan yang membutuhkan.
Maka, penetapan ini bukan perkara biasa. Ia adalah peristiwa makna, di mana prosedur bertemu nurani, dan regulasi bersanding dengan tanggung jawab ilahi. Allah SWT telah mengingatkan.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58). Rasulullah SAW pun bersabda. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Di tengah zaman yang sering riuh oleh prasangka, DPRK Pidie memilih jalan yang terang, menetapkan, memastikan, dan melanjutkan. Bukan tanpa kritik, bukan tanpa sorotan, tetapi dengan keyakinan bahwa kelembagaan harus tetap berjalan, tidak boleh berhenti oleh ragu yang tidak berujung.
Paripurna ini bukan akhir cerita. Ia adalah awal dari babak panjang, babak pembuktian. Waktu akan menjawab, publik akan menilai, dan sejarah akan mencatat. Namun pada akhirnya, semua kembali pada satu titik yang pasti, amanah harus dijaga, kepercayaan harus nyata.
Bukan sekadar kata-kata indah di ruang sidang, bukan pula janji yang hilang setelah palu diketuk. Ini adalah soal komitmen yang teruji, konsistensi yang terbukti. DPRK Pidie telah melangkah, menetapkan, memastikan, dan menegaskan arah. Kini tidak ada lagi ruang ragu yang berlarut, tidak ada alasan untuk menunda yang semestinya berjalan.
Lembaga sudah terbentuk, nama sudah ditetap, tanggung jawab pun telah melekat.
Maka, pesan ini menjadi terang dan tegas:
yang dipilih harus bekerja, yang dipercaya harus menjaga.
Baitul Mal bukan tempat mencari nama, tetapi tempat menjaga makna.Bukan ruang berbagi posisi, tetapi ruang menunaikan misi. Bukan sekadar jabatan yang disandang, tetapi amanah yang dipertanggungjawabkan.
Publik tidak butuh janji yang tinggi, tetapi bukti yang pasti.Tidak menunggu retorika yang panjang, tetapi kerja yang terang.Tidak mencari sensasi sesaat, tetapi integritas yang kuat.
Dan DPRK Pidie pun tidak boleh berhenti pada penetapan semata. Pengawasan harus nyata, evaluasi harus terjaga.Bukan sekadar hadir di awal, tetapi konsisten hingga akhir.
Karena pada ujungnya, semua akan kembali pada satu ukuran yang sama, siapa yang menjaga amanah, siapa yang mengkhianati amanah.
Jika amanah dijaga, kepercayaan akan tumbuh.Jika kepercayaan tumbuh, keberkahan akan hadir.Dan di situlah letak makna sebenarnya. Paripurna bukan sekadar selesai, tetapi awal untuk membuktikan diri.
Muhammad Riza












