KETOL, Aceh Tengah (Waspada.id): Fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, semakin meluas dan berpotensi mengancam area perkampungan warga.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai fenomena ini mirip dengan sinkhole, tapi memiliki sisi berbeda.
“Fenomena sinkhole (lubang amblesan) memang identik dengan batuan gamping (karst), namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” kata Plt Badan Geologi ESDM Lana Saria, melansir Detik, Minggu (1/2).
Menurut Badan Geologi gerakan tanah di lubang raksasa itu sudah berlangsung cukup lama. Batuan, kemiringan lereng, dan aliran irigasi juga membuat potensi lubang makin luas.
Menurut informasi dari warga setempat, gerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan masih berkembang sampai sekarang terutama pada musim hujan.
“Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (sarang), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap,” ujar dia.
Batuan di lubang raksasa itu menjadi gembur karena lereng tak satbil dan kondisi air. Penyebab lubang semakin meluas juga karena proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air, yang memperlebar tebing atau lembah.
“Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air, sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah, ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan,” kata Lana.
“Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan,” jelas dia menambahkan.
Muncul sejak tahun 2000
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan longsoran tanah di wilayah Kampung (desa) Bah Kecamatan Ketolitu terus membesar sejak diketahui pertama kali sekitar tahun 2000-an.
“Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, Kamis (15/1) seperti dikutip dari Antara.
Dia menjelaskan, sejauh ini memang belum ditemukan literasi pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang dan terus membesar tersebut.
Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004. Kemudian berdasarkan laporan dari masyarakat sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah – Bener Meriah).
Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” ujarnya.
Dia menjelaskan, sejauh ini memang belum ditemukan literasi pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang dan terus membesar tersebut.
Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004. Kemudian berdasarkan laporan dari masyarakat sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah – Bener Meriah).
Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” ujarnya.
Imbau Warga Jauhi Lubang Raksasa
Menyikapi meluasnya lubang raksasa yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah angkat bicara dan memberikan penjelasan sekaligus imbauan resmi.
Kalaksa BPBD Aceh Tengah, Andalika kepada Waspada.id Senin (2/2/26) mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah awal berupa pendataan di lokasi terdampak.
“Terkait lubang yang meluas itu, yang pertama kita sudah melakukan pendataan untuk di daerah tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga berimbas langsung kepada masyarakat, baik pengguna jalan lintas maupun warga setempat, terutama pada sisi perekonomian.
“Dampaknya juga dirasakan masyarakat, baik pengguna jalan lintas ataupun masyarakat setempat, salah satunya terhadap ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Andalika menambahkan bahwa lokasi tersebut juga telah ditinjau oleh pihak provinsi guna melihat langsung perkembangan dan kondisi meluasnya lubang raksasa tersebut.
Untuk keselamatan, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak mendekati area lubang demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak mendekati atau melihat dari kondisi dekat,” tutupnya.(id86/cnni)












