“Meski air telah surut dan lumpur mulai mengering, kecemasan dan ketidakpastian masih menyelimuti kehidupan warga. Bagi mereka, bencana belum benar-benar usai.”
35 Hari telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor menghantam Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ribuan kubik lumpur, kayu, dan material lain masih membekas di permukiman warga. Di tengah sisa-sisa bencana itu, Kasmiyati, ibu tiga anak, masih berjuang menata hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Setiap kali hujan turun, kegelisahan kembali menyergapnya. Ia kerap menatap rumahnya yang kini tertimbun lumpur yang mulai memadat. “Kalau hujan turun, saya masih was-was. Takut lumpur kembali terbawa ke desa kami,” ujarnya lirih, Rabu (31/12/2025).

Perempuan itu mengaku telah lelah untuk mengeluh. Baginya, kesabaran menjadi satu-satunya pegangan. “Saya rasa, mengeluh pun sudah tidak ada gunanya. Selain sabar, harus apa lagi?” katanya, sambil menyelempangkan tas bahu berisi barang-barang pribadi dan dokumen penting yang berhasil ia selamatkan.
Karena rumahnya berada tak jauh dari sungai, Kasmiyati semula mengira air hanya akan meluap akibat hujan deras yang turun dua hari berturut-turut. Namun pada malam ketiga, air datang membawa bukan hanya banjir, tetapi juga tanah, ranting, dan gelondongan kayu.

“Selama saya tinggal di sini, tidak pernah terjadi seperti ini. Padahal rumah sudah saya bangun lebih tinggi dari tanah, tapi tetap tidak terselamatkan,” tuturnya.
Air terus naik hingga sepinggang orang dewasa, sementara lumpur mengendap setinggi betis. Malam itu, Kasmiyati bersama suami dan tiga anaknya terpaksa memanjat atap rumah, hanya membawa ponsel dan surat-surat berharga.
“Keadaannya sangat mencekam, apalagi malam hari. Tetangga-tetangga juga sudah berada di atap. Kami hanya bisa saling menatap,” kenangnya.
Selama tiga hari tiga malam, Kasmiyati dan warga sekitar bertahan hidup dengan mengandalkan makanan yang hanyut terbawa air. Untuk minum, mereka menadah air hujan sebelum akhirnya dievakuasi. “Kami saling menolong satu sama lain, karena bantuan belum datang,” ujarnya.
Kini, rumah Kasmiyati tak lagi bisa dihuni. Timbunan lumpur setinggi hampir dua meter menutup seluruh bagian rumahnya. Di sekitar lokasi, Pesantren Al-Aziziyah juga mengalami kerusakan parah. Meski alat berat mulai dikerahkan untuk mengeruk sungai agar alirannya lebih rendah dari permukiman, kekhawatiran tetap menghantui Kasmiyati.

“Pesantren itu nantinya akan dibangun kembali di atas timbunan lumpur, karena lumpurnya terlalu luas dan dalam untuk dikeruk. Artinya rumah saya akan berada semakin rendah. Saya takut banjir kembali,” katanya.
Jika memiliki biaya, ia ingin meninggikan rumah dengan membongkar atap dan membangun pondasi baru. Namun untuk saat ini, makan dan tidur masih bergantung pada posko pengungsian di meunasah Desa Blang Cut.
“Hari ini saya dapat satu kotak mie goreng dari posko. Saya berikan ke anak saya. Saya sendiri tak berselera makan, hati masih gundah,” tuturnya pelan.
Kisah Kasmiyati mencerminkan betapa panjang dan kompleks dampak bencana bagi warga Blang Cut dan sekitarnya. Meski air telah surut dan lumpur mulai mengering, kecemasan dan ketidakpastian masih menyelimuti kehidupan warga. Bagi mereka, bencana belum benar-benar usai.
Hulwa Dzakira











