Mahalnya Lapak Tanpa Listrik, Pedagang Di Pameran Kuliner Lhokseumawe Kecewa

  • Bagikan
Mahalnya Lapak Tanpa Listrik, Pedagang Di Pameran Kuliner Lhokseumawe Kecewa

LHOKSEUMAWE (Waspada) : Para pedagang kaki lima dan UMKM dari berbagai daerah yang ikut acara pameran Culinery Fiesta Kota Lhokseumawe di halaman terminal Kec. Banda Sakti merasa kecewa dan dirugikan dengan patokan harga sewa lapak dan tenda tanpa listrik yang terlalu mahal, Selasa (6/12).

Kegiatan Pameran Culinery Fiesta di Mon Geudong yang seharusnya bisa menguntungkan para pedagang ternyata berubah menjadi ajang yang menguras uang modal pedagang.

Sehingga para pedagang yang ikut meramaikan pameran itu menyesali Kehadiran mereka hanya menjadi objek bagi panitia pelaksana pameran untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Salah seorang pedagang kaki lima Rahmad mengatakan setelah berusaha keras mendapatkan peluang meramaikan kegiatan pameran itu, ternyata pelaksanaannya tidak seperti yang diharapkan.

Dia mengaku semula ingin mengambil lapak stand UMKM untuk menjajakan barang dagangannya. Namun Rahmad kaget ketika panitia pelaksana meminta bayaran lapak dagang dengan harga yg sangat tinggi mencapai Rp4,5 juta perlapak stand dan untuk pedagang kaki lima wajib bayar Rp1 juta disesuaikan dengan jumlah ukuran lapak.

Bahkan tenda lapaknya diberikan seadanya tanpa ada pemasangan listrik dan belum termasuk yang kutipan kebersihan. Sehingga untuk kebersihan dan pemasangan listrik terpaksa Harus membayar lagi senilai Rp500 ribu atau Rp20 ribu perhari.

Akhirnya Rahmad terpaksa membatalkan niat menyewa stand dan hanya memiliki lapak PKL dengan harga Rp1 juta. “ Saya merasa sangat kecewa, lapak tanpa listrik harus dibayar mahal. Belum berdagang sudah tekor. Kalau stand untuk BUMN, Bank, perusahaan besar lainnya tentu layak harus bayar Rp4,5 juta. Meski pedagang UMKM tak mampu, namun terpaksa juga membayarnya,” tuturnya.

Pihak panitia menagih uang itu dengan cara arogan, sikap tidak ada teloransi, dan marah bila diajak bernegosiasi atau tawar-menawar harga sewa.

Ironisnya lagi, panitia juga tidak pandang bulu, meski pedagangnya orang lokal tetap saja tidak ada diskonnya tanpa peduli soal kearifan lokal.

Sehingga dirinya yang terlanjur mendapat lapak terpaksa merogoh kantong untuk menyetor sewa sesuai permintaan panitia.

Rahmad mengaku selaku pedagang kaki lima dirinya telah berkeliling Aceh hingga Sumatera mengais rezeki dalam berbagai momen acara besar.

Diantaranya seperti Festival kelahiran Kota Stabat, PKL disediakan lapak lengkap dengan listrik dan cukup membayar Rp600 ribu saja.

Sedangkan acara Pameran Culinery Fiesta Kota Lhokseumawe bukanlah acara yang besar dan masih kurang dipublikasi media. Sehingga antusias masyarakat juga terbilang masih rendah dan dagangan belum tentu laris manis.

“Kalau teman-teman saya pedagang dari luar daerah, otomatis sudah merasa kerugian dengan uang lapak yang mahal dan belum tentu modal kembali. Mereka merasa kaget dan tertipu ketika dikutip uang lapak yang mahal,” paparnya.

Terkait mahalnya harga lapak stand pameran, ternyata pihak Disperindagkop Lhokseumawe terkesan buang badan dan menutup mata tentang keluhan pedagang dan UMKM.

Sementara itu, Kadis Perindagkop dan UMKM Lhokseumawe M. Rizal gagal dikonfirmasi karena tidak berada di kantor dan tidak mengangkat telepon atau membalas pesan masuk.

Sedangkan Kabid Koperasi dan UMKM Kota Lhokseumawe Jafruddin mengatakan ada sebanyak 72 UMKM yang ikut memeriahkan Festival Culinery Fiesta yang akan dibuka secara resmi oleh PJ Wali Kota Lhokseumawe Imran.

Jafruddin mengaku, pihaknya tidak bisa mengintervensi hal itu karena menjadi tanggung jawab pihak ketiga selaku CEO. “Kalau terkait uang lapak tenda itu tidak bisa kami ikut campur, karena itu tanggung jawab CEO. Nilai sewa itu ditentukan setelah CEO membuat perhitungan soal persiapan panggung, tenda dan lainnya,” ujarnya. (b09)

FOTO : Meski harga sewa lapak stand dirasa sangat mahal dan mencekik ekonomi rakyat kecil, namun para pedagang kaki lima dan UMKM tetap ikut meriahkan Pameran Culinery Fiesta di Terminal Bus Desa Mon Geudong Kec. Banda Sakti, Selasa (6/12). Waspada/Zainuddin Abdullah

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *