Di komplek halaman Masjid Tuha Dayah Bubue, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, pohon Asam Jawa (Bak Me-red) berdiri gagah dan besar, seolah menjadi penjaga setia masjid tua ini.
Batangnya kokoh, cabang-cabangnya menjulang tinggi, daunnya meneduhkan halaman, dan akar-akarnya menancap kuat ke tanah. Setiap hembusan angin yang menyisir dedaunannya seakan mengiringi doa-doa yang terdengar di mesjid tua ini, saksi bisu dari sejarah dan tradisi yang nyaris terlupakan.
Di balik pohon yang anggun itu, Masjid Tuha Dayah Bubue berdiri sunyi, kayu-kayunya mulai lapuk dimakan usia. Bangunan ini bukan sekadar rumah ibadah, ia menyimpan narasi spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Lampoh Saka selama lebih dari satu abad.
Hari ini, masjid lebih sering menjadi lokasi kenduri blang, ritual adat sebelum menanam padi, daripada menjadi pusat salat Jumat seperti masa silam. Namun kehadirannya tetap sarat makna, antara kesunyian, warisan, dan ingatan kolektif.
Ditinjau dari segi semiotik, makna sebuah masjid dapat dipahami melalui bentuk, model, dan simbol yang tampak. Bentuk bangunan masjid di Indonesia banyak dipengaruhi budaya Timur Tengah, Turki, dan India, tetapi juga selalu berpadu dengan adat dan tradisi setempat.
Masjid terdahulu justru lebih bersifat simbol sufistik, karena pencetusnya umumnya adalah ulama atau tokoh sufi yang memberi pencerahan dan ketenangan bagi umat Islam. Aceh, sebagai salah satu daerah pertama yang menerima Islam di Nusantara, memiliki gaya masjid tersendiri.
Selain pengaruh Timur Tengah, India, dan Turki, masjid Aceh kental dengan unsur budaya lokal. Beragam model masjid Aceh dahulu melambangkan rukun Islam, terlihat dari bentuk kubah, ukuran, dan konstruksi atapnya. Saat masuk ke masjid, pintu yang rendah membuat pengunjung secara alami merunduk, simbol kerendahan hati dan ketundukan pada Tuhan.

Pada Masjid Tuha Dayah Bubue, atap masjid berbentuk atap tumpang dua lapisan. Lapisan bawah lebih besar, lapisan atas berbentuk limas. Inilah salah satu keunikan masjid tradisional Aceh, tidak terdapat kubah untuk mengumandangkan azan, melainkan biasanya menggunakan “purieh”, yaitu naik ke atap masjid untuk menyerukan panggilan salat.
Bangunan masjid selalu menghadap ke Timur, menyesuaikan arah kiblat, dengan sisi belakang di Barat. Di sisi Barat terdapat mihrab untuk imam (imuem), sementara di sebelah kanan mihrab terdapat mimbar untuk khatib memberikan khotbah sebelum Salat Jumat. Bentuk masjid jauh berbeda dengan rumah tradisional Aceh, bagian-bagiannya tidak didasarkan pada struktur bawah-atas seperti rumah, tetapi lebih pada bagian bawah, atas, dan puncak, yang memiliki makna simbolik tersendiri.
Arsitektur Masjid Tuha Dayah Bubue
Masjid Tuha Dayah Bubue menyimpan ciri khas masjid Aceh klasik: empat tameh teungoh bersegi delapan menopang puncak atap, sementara dua belas tiang lebih pendek menyangga lapisan bawah. Atapnya bersusun dua, lapisan bawah lebih besar, lapisan atas berbentuk limas, memberikan kesan verticalitas yang menuntun mata dan hati pengunjung ke langit, sekaligus menjadi simbol spiritualitas.
Di halaman masjid, sumur dan kolam wudhu masih tersisa. Pada cincin sumur tertulis 1937, sementara catatan lain mencatat 17 Safar 1343 H (1924 M). Angka-angka ini bukan sekadar tulisan; ia adalah saksi bisu aktivitas keagamaan, sosial, dan tradisi masyarakat yang telah berlalu.
Jejak spiritual juga tampak pada bangunan itu. Masjid ini diyakini memiliki pengaruh Tarekat Rifa’iyah, terbaca dari tulisan nama Ahmad Rifa’i yang masih samar di dinding mesjid. Tradisi ini mengingatkan pada tokoh besar seperti Nuruddin ar-Raniri, mufti Kesultanan Aceh abad ke-17. Dayah Bubue bukan ruang kosong, ia adalah simpul intelektual dan spiritual, menghubungkan ulama, tarekat, dan masyarakat lokal.
Pantangan di Tiga Makam
Di komplek halaman masjid terdapat tiga makam yang dihormati warga. Pantangan lokal menyebutkan bahwa siapa pun yang melintas di atas makam tanpa izin akan mengalami sakit atau kesialan. Pantangan ini bukan sekadar mitos, ia adalah pengingat akan kesucian tanah dan penghormatan kepada leluhur serta ulama. Ironisnya, ketika masjid dan makam-makam ini dibiarkan terbengkalai, pesan moral dan spiritual itu ikut memudar.
Menurut Asnawi, salah seorang pengurus lama masjid, tanggung jawab perbaikan dahulu dibagi antargampong, Gampong Dua Paya mengurusi sisi utara, Rambayan sisi selatan, Tanjung Hagu bagian barat, dan Dayah Bubue mengurus atap timur.
“Kalau ada kerusakan, masing-masing gampong bertanggung jawab,” kata Asnawi. Sistem gotong royong ini bukan hanya teknis; ia menanamkan solidaritas dan kesadaran kolektif.
Selain itu, Umar Mahdi, SH, MH, anggota Tim Perumus Hari Jadi Pidie, menegaskan: “Masjid ini adalah bagian dari sejarah kolektif Pidie. Setiap tiang, ukiran, dan makam di sekitarnya menyimpan narasi spiritual, sosial, dan budaya yang menjadi identitas lokal. Kehadirannya harus dilihat sebagai warisan yang hidup, bukan sekadar benda mati,” kata Umar.
Warga lokal masih mengenang bagaimana mesjid ini dulu menjadi pusat belajar agama. Anak-anak dari gampong sekitar belajar mengaji di halaman masjid dan dayah yang berdampingan. Kini, kegiatan belajar itu jarang terjadi karena mesjid tua ini lebih banyak ditinggalkan.
Kenduri Blang: Tradisi yang Masih Hidup
Salah satu tradisi yang masih berlangsung adalah kenduri blang, ritual sebelum menanam padi. Warga menggelar doa dan jamuan di sekitar masjid, memohon keselamatan dan hasil panen yang baik. Kenduri ini menjadi pengikat sosial, menghubungkan generasi tua dan muda, serta menjaga kesinambungan tradisi agraris.
Pohon Asam Jawa (Bak Me-red) menjadi saksi hidup seluruh prosesi ini, daunnya berdesir tertiup angin, seolah ikut mendoakan warga yang berkumpul. Warga juga menggunakan halaman mesjid untuk mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai lokal, menghormati leluhur, menjaga makam, dan menghargai tradisi.
Masjid bukan sekadar bangunan, ia adalah ruang pendidikan informal yang hidup, menghubungkan generasi ke generasi.
Ancaman Modernisasi dan Pelestarian
Masjid tua ini menghadapi risiko besar. Generasi kini lebih tertarik pada masjid megah dengan kubah besar dan marmer mengilap, sementara Masjid Tuha Dayah Bubue dibiarkan menua sendiri.
Jika ia roboh, yang hilang bukan hanya kayu tua atau ukiran yang mulai luntur, tetapi narasi kolektif, identitas lokal, dan kesadaran spiritual. Aceh pernah kehilangan banyak situs bersejarah; beberapa masjid tua terbakar, sebagian dibongkar atas nama modernisasi.

Pelestarian Masjid Tuha Dayah Bubue bukan sekadar soal memugar bangunan. Ia adalah menghidupkan kembali ingatan kolektif, agar generasi kini dan mendatang memahami bahwa tradisi, sejarah, dan nilai spiritual adalah fondasi identitas.
Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, hingga generasi muda harus melihat Masjid Tuha Dayah Bubue sebagai warisan kolektif, bukan sekadar kayu tua yang tersisa. Di komplek halaman Masjid Tuha Dayah Bubue, pohon Bak Me-red berdiri, Menjaga tiang-tiang tua, menyaksikan sejarah yang tak terganti.
Makam-makam diam, berbisik pantangan, menuntun langkah yang menghormati, dan setiap hembusan angin, seakan membawa doa masa lalu ke hati yang peduli.
Masjid ini bukan sekadar kayu dan atap, Ia adalah narasi yang hidup, puisi sufistik yang menuntun jiwa, Tempat kenduri blang menjadi suara manusia dan tanah bersatu,
Dan jika kita mendengar, sungguh, ia masih berbicara, Tentang akar, tentang ingatan, tentang kita yang tak boleh melupakan.
Muhammad Riza











