BLANGPIDIE (Waspada.id): Satu tahun kepemimpinan Dr. Safaruddin, S.Sos., M.S.P dan Zaman Akli, S.Sos., M.M, sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), dipenuhi deretan capaian, yang dipublikasikan secara masif oleh pemerintah daerah.
Dalam laporan resmi bertajuk Capaian 1 Tahun Pemerintahan, Pemkab menyebut Abdya meraih Kabupaten Layak Anak (KLA) 2025 kategori Pratama, ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ ke-38 Aceh tahun 2027, menerima UHC Awards 2026 peringkat 8 nasional, meraih Juara I TTG Aceh 2025, penghargaan Kearsipan Digital dari ANRI, nilai Indeks Statistik Sektoral 2,89 (peringkat 3 se-Aceh), Juara 1 kualitas udara se-Aceh, serta masuk tiga besar Indeks Kualitas Lahan dan Lingkungan Hidup.
Di sisi fiskal, pemerintah mengklaim utang daerah turun dari Rp58 miliar menjadi Rp6 miliar (pelunasan 89,7 persen) dan hak gampong TA 2024 sebesar lebih dari Rp7,2 miliar telah diselesaikan. Angka kemiskinan disebut turun dari 15,32 persen menjadi 13,30 persen atau setara 2.970 jiwa.
Di sektor kesehatan, RSUD Teungku Peukan kini berstatus FKRTL dengan tambahan layanan Poli Jantung, laparoscopy, USG 3–4 dimensi, Baby CPAP, hingga Transcranial Doppler. Di sektor pertanian dan perikanan, bantuan 100 pompa air, 4 traktor roda 4, 25 hand traktor, 3 combine harvester serta program Kampung Nelayan Merah Putih senilai sekitar Rp22 miliar digelontorkan, sementara 25 produk UMKM disebut telah menembus Indomaret dan 150 UMKM dipromosikan melalui Gerai Dekranas.
Masyarakat Nanggroe Breuh Sigupai Abdya berharap, deretan penghargaan dan statistik itu benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat hingga kelas bawah. Penurunan kemiskinan diharapkan lahir dari penguatan ekonomi riil, bukan sekadar efek jangka pendek. Demikian pula pelunasan utang daerah, diharapkan tidak mengorbankan belanja strategis yang menyentuh hajat hidup rakyat banyak.
Ketua LSM YARA Perwakilan Abdya, Suhaimi N, SH, MH, menilai capaian tersebut patut diapresiasi sebagai fondasi awal pemerintahan. Namun ia mengingatkan pentingnya transparansi, konsistensi tata kelola, serta keberlanjutan program agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata. “Prestasi harus diikuti penguatan akuntabilitas dan partisipasi publik,” ujarnya.
Senada dengan itu, ulama kharismatik Abu Dayah Manyang Puskiyai Aceh, Tgk H Farmadi ZA, MSc, mengajak seluruh elemen untuk menjaga semangat kebersamaan dan nilai-nilai keadilan dalam pembangunan. Menurutnya, keberhasilan pemerintahan tidak hanya diukur dari banyaknya penghargaan, tetapi dari sejauh mana kebijakan menghadirkan kemaslahatan, mengurangi kesenjangan dan memperkuat moral sosial masyarakat. “Bersyukurlah kita masyarakat Abdya, kita memiliki pemimpin yang peduli dengan segala bidang. Mudah-mudahan beliau selalu dalam ridho dan lindungan Allah SWT. Aamiiin, ” harapnya.
Satu tahun adalah panggung awal. Yang diharapkan rakyat bukan sekadar banyaknya piagam, tetapi konsistensi hasil dan keberlanjutan dampak. Prestasi boleh dipublikasikan, namun legitimasi sejati tetap ditentukan oleh manfaat nyata yang dirasakan masyarakat di lapangan. (id82).











