Aceh

Mengenal Allah: Anugerah Terbesar dalam Hidup Seorang Hamba

Mengenal Allah: Anugerah Terbesar dalam Hidup Seorang Hamba
Abati Salahuddin saat menyampaikan tausiah di Masjid Agung Darul Falah. (Waspada.id/id94)
Kecil Besar
14px

UDARA Subuh di Masjid Darul Falah Langsa terasa lebih hening dari biasanya.

Di sela zikir dan sisa kantuk jamaah, Ketua MPU Kota Langsa, Abati Salahuddin, MH, menyampaikan sebuah pesan yang menembus batas akal dan rasa: tentang tauhid, tasawuf, dan makna mengenal Allah.

Beliau membuka ceramah dengan satu penegasan sederhana namun mendalam:
ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya gerakan, tetapi dari sejauh mana seorang hamba mengenal Tuhannya.

Dalam perspektif tauhid dan tasawuf, semakin seseorang mengenal Allah, maka semakin tinggi pula nilai ibadahnya.

Shalat, zikir, puasa, dan amal kebaikan tidak lagi sekadar rutinitas, melainkan lahir dari kesadaran hati bahwa ia sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Agung.

Abati Salahuddin menegaskan, tidak semua orang diberi anugerah untuk benar-benar mengenal Allah.

Sebab, mengenal Allah bukan semata hasil kecerdasan intelektual, tetapi buah dari hidayah dan perkenalan yang Allah kehendaki.

“Kepada siapa Allah memperkenalkan diri-Nya, maka orang itu telah memperoleh anugerah yang paling besar,” ujar beliau.

Untuk memudahkan pemahaman jamaah, Abati Salahuddin menyampaikan sebuah analogi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ibarat seorang karyawan di tempat kerja: jika seorang pimpinan besar memperkenalkan dirinya secara khusus kepada seorang karyawan, maka karyawan tersebut tentu akan mendapatkan banyak kemudahan di kemudian hari—akses, kepercayaan, bahkan perlindungan.

Demikian pula dengan Allah.
Jika Allah telah “memperkenalkan” diri-Nya kepada seorang hamba—melalui ketenangan iman, kekhusyukan ibadah, dan kepekaan hati—maka hidup orang itu tidak akan sama lagi.

Ujian tetap ada, tetapi ia menjalaninya dengan yakin. Masalah datang silih berganti, namun hatinya tidak mudah goyah.

Dari sinilah tasawuf menemukan maknanya: membersihkan hati agar layak menerima pengenalan dari Allah.

Bukan untuk merasa paling suci, tetapi untuk semakin rendah hati, semakin takut berbuat dosa, dan semakin rindu beribadah.

Ceramah Subuh itu mengingatkan jamaah bahwa tujuan hidup seorang mukmin bukan sekadar mengejar dunia atau banyaknya amal lahiriah, melainkan mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

Karena saat seorang hamba telah mengenal Tuhannya, maka seluruh hidupnya akan diarahkan, dijaga, dan dituntun oleh-Nya. Dan itulah anugerah terbesar yang tidak bisa ditukar dengan apa pun di dunia ini.(id94)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE