LHOKSEUMAWE (Waspada.id): Suasana berbeda terlihat dalam kegiatan pengajian rutin di Dayah Qari Hafidz (QAHA) Ukhwatul Quran Kota Lhokseumawe. Kegiatan pengajian tidak terlihat kaku karena menggunakan metode belajar interaktif dan diselingi canda ceria.
Metode ini dinilai berhasil mengajak para santri untuk antusias dalam mengikuti kajian. Hal ini terjadi karena para ustadz di dayah setempat berhasil menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan tanpa mengurangi rasa hormat pada ilmu.
Pantauan Waspada.id di Dayah QAHA Kota Lhokseumawe, Rabu (1/4) pukul 20.30, kegiatan pengajian dipandu oleh Ustad Qasim. Materi pada malam ini membahas tentang hal-hal yang membatalkan shalat.
Ustadz Qasim dengan sabar menjelaskan secara perlahan-lahan agar para santri dapat menyerap seluruh materi yang disampaikan dengan baik. Terkadang, Ustadz Qasim dengan sengaja menyisipkan candaan yang mendidik pada saat menjelaskan materi pengajian.
Suasana ini berhasil menghilangkan suasana kaku tetapi tetap mengedepankan rasa hormat santri kepada uatadz dan ustadzah.
“Setiap selesai menjelaskan materi pangajian, kita wajibkan kepada para santri untuk mengulang apa yang telah kita sampaikan. Setiap santri kita minta untuk menjawab pertanyaan yang kita ajukan ke mereka. Alhamdulillah…metode interaksi ini mampu menghilangkan anggapan belajar di dayah itu kaku,” kata Ustadz Qasim kepada Waspada id.
Dalam pengajian tersebut, ustadz sering menyisipkan game kecil atau tebak-tebakan seputar fiqih dan sejarah Islam. Suasana riuh rendah dengan tawa santri terdengar, namun seketika hening saat kajian serius kembali dimulai. “Belajar di sini jadi seru, tidak bikin mengantuk. Ustadz-nya asyik, jadi kami lebih cepat paham materi,” kata salah satu santri di Dayah QAHA kepada Waspada.id.
Metode ini, kata Ustadz Qasim, terbukti dapat meningkatkan partisipasi santri secara signifikan. Dayah QAHA berkomitmen untuk terus berinovasi dalam metode pengajaran agar ilmu agama dapat dipelajari dengan hati yang gembira dan penuh keceriaan.
Amatan Waspada.id, para santri diwajibkan memakai pakaian jubah putih dan santriwati memakai mukena putih. Para santri belajar di balai-balai dan para santriwati mengikuti pengajian di mushalla dayah setempat. (id70)










