Aceh

MSM BEM USK: Mahasiswa Kritis Kepentingan Politik Adalah Pengkhianat Nurani Intelektual

MSM BEM USK: Mahasiswa Kritis Kepentingan Politik Adalah Pengkhianat Nurani Intelektual
Menteri Sosial Masyarakat BEM USK, Win Farhan Abdillah. Waspada.id/Seh Muhammad Amin
Kecil Besar
14px

KUTACANE (Waspada.id): Menteri Sosial Masyarakat BEM Universitas Syiah Kuala (USK), Win Farhan Abdillah, menegaskan Mahasiswa yang menukar sikap kritis dengan kepentingan politik adalah pengkhianat nurani intelektual.

“Gerakan mahasiswa kini berada di persimpangan serius tetap berdiri sebagai pembela kepentingan publik, atau tenggelam sebagai alat transaksi politik yang dibungkus narasi perjuangan,” demikian Menteri Sosial Masyarakat BEM USK, Win Farhan Abdillah, kepada Waspada.id, Kamis (8/1), saat ditemui di warung kopi Sene Rebung Pasar Belakang Kutacane Aceh Tenggara.

Dia memaparkan, mahasiswa bukan properti elite politik. Setiap aksi, pernyataan, dan simbol perlawanan yang lahir dari pesanan adalah bentuk pembusukan gerakan. Ketika idealisme digadaikan demi keuntungan sesaat, maka yang runtuh bukan hanya marwah mahasiswa, tetapi juga harapan masyarakat terhadap perubahan.

“Fenomena gerakan mahasiswa yang dilakukan untuk kepentingan politik praktis tidak bisa lagi ditutupi. Dukungan berbayar, mobilisasi massa pesanan demi kepentingan tertentu, adalah kejahatan moral yang mencederai sejarah panjang perjuangan mahasiswa,” ujarnya.

“Gerakan yang dikendalikan oleh keuntungan dan kepentingan bukan lagi perlawanan, itu penipuan publik. Mahasiswa harus berani melakukan perlawanan ganda: melawan ketidakadilan kebijakan, dan melawan pembusukan dari dalam barisan sendiri. Sikap netral palsu dan kompromi pragmatis hanya akan melahirkan gerakan yang kehilangan arah dan keberanian,” tambahnya.

Menurutnya, independensi bukan jargon, melainkan prinsip yang tidak bisa ditawar. Mahasiswa wajib menolak segala bentuk transaksi politik, baik yang terang-terangan maupun yang dibungkus kepentingan organisasi. Diam terhadap praktik tersebut sama dengan ikut menikmati pembusukan.

“Jika mahasiswa berhenti berpihak pada rakyat, maka mahasiswa tidak lebih dari alat legitimasi yang berkepentingan. Sejarah akan mencatat dengan tegas: siapa yang melawan, dan siapa yang memilih menjual idealismenya,” ujar Menteri Sosma Win farhan. (id80)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE