Aceh

Musrenbang Abdya Diuji, Antara Aspirasi Warga Dan Realitas Anggaran

Musrenbang Abdya Diuji, Antara Aspirasi Warga Dan Realitas Anggaran
Plt Sekda Abdya Amrizal S.Sos MSi, saat membuka Musrenbang tingkat Kecamatan di Kecamatan Babah Rot. Selasa (3/2).Waspada.id/Syafrizal
Kecil Besar
14px

BLANGPIDIE (Waspada.id): Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan di Aceh Barat Daya (Abdya), resmi dimulai. Namun lebih dari sekadar agenda rutin tahunan, forum ini menjadi ujian nyata, sejauh mana suara warga benar-benar menentukan arah pembangunan, bukan sekadar melengkapi administrasi perencanaan.

Musrenbang digelar selama tiga hari dengan skema maraton, tiga kecamatan per hari. Dimulai Selasa (3/2) di Babah Rot, Kuala Batee, dan Jeumpa, lalu berlanjut ke Blangpidie, Susoh dan Setia pada Rabu (4/2), serta ditutup di Tangan Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil. Pola ini menunjukkan keseriusan Pemkab Abdya menjangkau seluruh wilayah, sekaligus menuntut ketajaman dalam memilah usulan yang benar-benar berdampak.

Plt Sekda Abdya, Amrizal SSos, saat membuka kegiatan menegaskan,  Musrenbang bukan ruang seremonial, melainkan arena strategis untuk menyaring kebutuhan riil masyarakat. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara aspirasi Desa dan arah kebijakan daerah, provinsi, hingga nasional, terutama di tengah tekanan fiskal yang kian ketat. “Setiap usulan harus menjawab masalah nyata dan berdampak langsung pada kesejahteraan. Bukan daftar keinginan, tapi kebutuhan,” ujar Amrizal, didampingi Kepala Bapperida Abdya, Sufrinaldi SH.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal pergeseran paradigma, dari pembangunan berbasis proyek, menuju pembangunan berbasis dampak. Pemerintah daerah, kata Amrizal, tak lagi punya ruang untuk membiayai program yang tak jelas manfaatnya, apalagi yang sekadar mengulang pola lama.

Musrenbang kali ini juga dihadiri unsur Forkopimcam, perangkat daerah, Kades, tokoh masyarakat, perempuan dan pemuda. Kehadiran lintas unsur tersebut diharapkan mampu menekan praktik usulan elitis, sekaligus memperkuat partisipasi publik yang substansial.

Dengan keterbatasan anggaran dan tuntutan pembangunan yang semakin kompleks.

Musrenbang di Abdya menjadi cermin tantangan nasional: bagaimana perencanaan dari bawah benar-benar memengaruhi kebijakan, bukan berhenti sebagai ritual tahunan. Di titik inilah Musrenbang diuji, apakah ia menjadi jembatan aspirasi rakyat, atau sekadar catatan yang tersimpan rapi di rak perencanaan.(id82)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE