Nasir Djamil Harap DOKA Pacu Pembangunan Sarpras Di Pedalaman Dan Pesisir

- Aceh
  • Bagikan
Anggota DPR RI HM Nasir Djamil, meninjau jembatan rusak di Buket Bata, Pante Bidari, Aceh Timur, Kamis (27/12). Waspada/H. Muhammad Ishak
Anggota DPR RI HM Nasir Djamil, meninjau jembatan rusak di Buket Bata, Pante Bidari, Aceh Timur, Kamis (27/12). Waspada/H. Muhammad Ishak

IDI (Waspada): Pemerintah Aceh diharap menjadikan program prioritas dalam membangun berbagai sarana dan prasarana (sarpras) di daerah pedalaman, seperti akses jalan dan jembatan penghubung antar kecamatan di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara.

“Banyak jembatan yang belum terbangun di daerah pedalaman, begitu juga dengan jalan. Kita berharap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) dapat diprioritaskan untuk membangun berbagai sarpras di Aceh,” kata anggota DPR RI, HM. Nasir Djamil, M.Si, kepada Waspada, Kamis (28/12) di Idi.

Politisi PKS itu mengakui, pemerintah kabupaten/kota menyesuaikan pembangunan sarpras sesuai dengan kemampuan daerah, namun dia menilai pembangunan sarpras masih mendesak dan perlu mendapat prioritas dari Pemerintah Aceh, seperti jembatan penghubung dari Peureulak ke Lokop.

“Begitu juga dengan jembatan penghubung dari berbagai desa ke pusat ibukota kecamatan, seperti jalan dan jembatan di Buket Bata Lhoknibong (Pante Bidari),” urai HM. Nasir Djamil, seraya berharap, sarana transportasi perlu diprioritaskan untuk memperlancar arus transportasi dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat serta akses anak-anak ke sekolah.

Begitu juga dengan berbagai usulan dari pemerintah kabupaten/kota ke kementerian terkait, HM Nasir Djamil siap mengawalnya, seperti pembangunan batu pemecah ombak sepanjang pesisir Aceh Timur, baik di Kuala Simpang Ulim, Kuala Idi Cut dan Kuala Peudawa serta Kuala Peureulak. “Hal ini penting untuk menghidupkan wisata bahari berbasis syariah,” sebut HM Nasir Djamil.

Nasir Djamil Harap DOKA Pacu Pembangunan Sarpras Di Pedalaman Dan Pesisir
Anggota DPR RI, HM Nasir Djamil, meninjau lokasi abrasi pantai di Kuala Simpang Ulim, Aceh Timur, Selasa (26/12). Waspada/H. Muhammad Ishak

Mengeluh

Sementara Keuchik Gampong Kuala Simpang Ulim, Tgk Idris, terpisah mengatakan, gampong (desa—red) yang dipimpinnya merupakan satu-satunya desa terparah yang dilanda tsunami tahun 2024 silam. Namun batu pemecah ombak yang dipasang dalam beberapa tahun belum seluruh rampung, sehingga diharapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melanjutkan sisa 1.000 meter batu pemecah ombak.

“Jika batu pemecah ombak ini tidak dilanjutkan, maka desa ini akan dikikis abrabasi. Dampaknya, lahan tambak dan tempat pemakaman serta pemukiman penduduk akan digerus pantai,” kata Tgk Idris, seraya berharap perwakilan rakyat Aceh seperti HM Nasir Djamil, dapat memperjuangkan aspirasi masyarakat di tingkat pusat. (b11).

  • Bagikan