Aceh

Nek Tigade Minta Huntara Jelang Ramadhan, Rumahnya di Pedalaman Bireuen Jadi Sungai

Nek Tigade Minta Huntara Jelang Ramadhan, Rumahnya di Pedalaman Bireuen Jadi Sungai
Nek Tigade, duduk di lokasi rumahnya yang kini telah menjadi aliran Krueng Peusangan, di Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Sabtu (17/1). Waspada.id/Fauzan
Kecil Besar
14px

BIREUEN (Waspada.id): Nenek Tigade, 73), seorang lansia dari Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, mengeluarkan jeritan hati karena kehilangan tempat tinggal yang kini telah berubah menjadi bagian sungai Krueng Peusangan. Lebih dari sebulan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut, ia menginginkan Hunian Sementara (Huntara) agar bisa menjalankan ibadah dengan nyaman menjelang bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

“Hanale Rumoh loen Nyak, ka dicoek le Krueng, hanale tempat taduk (Rumah saya tidak ada lagi nak, sudah menjadi sungai, tidak ada tempat tinggal lagi),” ujar Nek Tigade dengan mengeluarkan air mata saat ditemui Sabtu (17/1).

Menurutnya, tinggal di tenda pengungsian sangat tidak nyaman karena panasnya terik matahari, apalagi untuk beristirahat dan melaksanakan ibadah puasa. “Pereule that nyak e tempat tapioh untuk tasemayang dan ta ibadah lam bulen puasa walaupun hanya saboh kama (Membutuhkan sekali nak, tempat istirahat dan untuk shalat serta beribadah dalam bulan Ramadhan),” katanya dengan nada terbata-bata.

Nek Tigade menjelaskan bahwa kebutuhannya bukan hunian tetap yang akan dibangun nanti, melainkan tempat tinggal sementara yang bisa digunakan segera. “Yang tapeugah kon keu ukeu, jinoe nyoe beuna pat taduk tapajoeh bu, na tempat taseumayang dan tempat taistirahat dile adak hana permanen kajeut (Yang kita butuhkan bukan untuk ke depan, tetapi untuk sekarang ini, ada tempat untuk makan, shalat, dan beristirahat sementara dulu),” harapnya.

Ia mengaku bahwa sejak kejadian bencana hampir dua bulan lalu, pihak pemerintah gampong maupun Pemkab Bireuen belum pernah menanyakan kondisi tempat tinggalnya. Saat ini, ia harus mengambil makanan di menasah dan makan di sebuah balai kecil pinggir sungai karena tidak sanggup tinggal di tenda.

“Saat kejadian malam itu saya dilarikan ke tempat yang lebih aman oleh anak saya, saat itu tidak tahu lagi bagaimana dengan rumah. Keesokan harinya baru melihat tidak ada lagi dan telah menjadi sungai,” ceritanya sambil berulang kali menyampaikan kebutuhan akan hunian sementara.

Waspada.id yang melakukan kunjungan ke lokasi menemukan perjalanan yang sangat sulit, harus melewati sekitar 10 kilometer jalan akses seadanya melalui kebun masyarakat. Di lokasi terlihat sejumlah rumah warga yang rusak runtuh di bibir sungai, bahkan puluhan lainnya telah hilang. Beberapa korban bencana juga tinggal di tenda pengungsian yang berada di atas sebuah menasah, dengan pandangan penuh harapan terhadap bantuan yang akan datang.(id73)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE