AcehLapsus

Pagi Panjang Relawan VRI Di Pidie Dan Pijay

Pagi Panjang Relawan VRI Di Pidie Dan Pijay
Relawan VRI Aceh mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Pidie, Rabu (28/11).Waspada.id/ist
Kecil Besar
14px

Laporan: Muhammad Riza|| Waspada.id|| Sigli- Aceh

Pagi belum sepenuhnya terang ketika tim Vertical Rescue Indonesia (VRI) Aceh mulai bersiap di tepi jalan Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

IKLAN

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, tetapi laporan warga yang terjebak banjir sudah masuk sejak subuh. Tanpa banyak jeda, tim yang beranggotakan 12 orang itu langsung bergerak menyusuri kawasan terendam air.

Sejak 26 hingga 28 November 2025, pagi hari menjadi penanda dimulainya rangkaian evakuasi yang tidak berhenti hingga malam. Di Kabupaten Pidie, tim menyusuri Kembang Tanjong hingga Mutiara Timur, menjemput warga yang tidak sempat meninggalkan rumah ketika debit air naik tiba-tiba.

“Setiap pagi kami mulai dari Pidie, mengecek titik-titik banjir, memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” ujar Koordinator VRI Aceh, Fitriani S.Pd. “Siangnya kami bergerak lagi, dan menjelang sore kami sudah bersiap menuju Pidie Jaya.” katanya mengisahkan.

Pagi yang sibuk itu berubah menjadi malam yang lebih panjang ketika tim berpindah tugas ke Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua di Pidie Jaya. Di daerah ini, tantangan justru lebih terasa. Tidak ada posko koordinasi yang dikelola pemerintah daerah, membuat tim pencarian harus mengandalkan laporan sporadis dari warga dan relawan setempat.

“Di Pidie koordinasinya lancar. Begitu pagi datang, kami sudah tahu harus bergerak ke mana. Tetapi di Pidie Jaya, situasinya berbeda. Tidak ada posko, tidak ada peta lokasi darurat. Kami seperti ‘buta map’,” kata Fitriani.

Pagi demi pagi, kata dia, menjadi momen krusial untuk mengatur langkah evakuasi. Namun tanpa jalur koordinasi yang jelas, efisiensi penanganan bencana menjadi sulit dicapai.

“Koordinasi itu kunci. Jika pagi hari saja kita tidak tahu ke mana harus bergerak, berarti daerah tersebut belum siap menghadapi bencana,” ujar Fitriani menegaskan.

Hingga Kamis (28/11), tim gabungan VRI Aceh, Basarnas Aceh, dan SAR Pidie masih terus memantau daerah yang berpotensi tergenang kembali, terutama di wilayah dataran rendah yang debit airnya fluktuatif.

Pagi berikutnya, kata mereka, selalu menunggu dengan pekerjaan serupa: memastikan keselamatan warga. WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE