SIGLI (Waspada.id): Panglima Laot Kabupaten Pidie, Marfian AS, Minggu (30/11) meminta masyarakat dan nelayan di sepanjang pesisir Pidie meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir rob (pasang Purnama) yang diperkirakan terjadi pada 29 November hingga 15 Desember 2025.
Imbauan itu disampaikan menyusul peningkatan potensi pasang maksimum air laut dan gelombang tinggi berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Marfian menyatakan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama di tengah situasi cuaca maritim yang tidak stabil. “Kami mengimbau masyarakat pesisir untuk mengikuti setiap informasi resmi dari BMKG. Nelayan juga perlu memprioritaskan keselamatan sebelum memutuskan berangkat melaut,” ujarnya.

Kata dia, BMKG mencatat bahwa Provinsi Aceh termasuk wilayah yang berpotensi terdampak banjir pesisir pada awal hingga pertengahan Desember. Kondisi tersebut dipengaruhi fase perigee, ketika Bulan berada pada titik terdekat dengan Bumi sehingga memicu peningkatan gaya gravitasi yang berdampak pada tinggi pasang laut.
Fenomena itu diperkuat dengan fase Bulan purnama pada 4 Desember 2025, yang dapat meningkatkan ketinggian permukaan laut secara signifikan. Kombinasi keduanya membuat potensi banjir rob lebih tinggi, terutama pada malam hari hingga dini hari.
Banjir rob berpotensi menggenangi permukiman warga, merendam tambak, mengganggu aktivitas nelayan, dan memutus akses transportasi di sejumlah jalur pesisir.
Laporan Awal Warga
Sejumlah gampong ( desa) pesisir, seperti Jeumeurang, Kembang Tanjung, Meunasah Lhok, dan Kuala Pidie, mulai merasakan dampak peningkatan ketinggian air laut dalam beberapa hari terakhir. Di beberapa lokasi, air telah mencapai area tambak dan mendekati permukiman.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat terkait meningkatkan pemantauan berkala untuk mengurangi risiko kerugian, terutama bagi sektor perikanan budidaya dan pelayaran nelayan skala kecil.

Marfian meminta perangkat gampong memperkuat sosialisasi kepada warga mengenai potensi pasang puncak dan langkah-langkah mitigasinya. Warga diminta mengamankan barang berharga, memindahkan peralatan kerja ke tempat lebih tinggi, serta memastikan kondisi perahu dalam keadaan aman.
“Nelayan yang biasa berangkat sebelum subuh sebaiknya menunda keberangkatan jika kondisi laut tidak stabil,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan kolektif menjadi kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem. “Kami berharap masyarakat tetap tenang namun tidak lengah. Tantangan cuaca ekstrem harus disikapi dengan kesiapan dan kebersamaan,” ujarnya.
Dengan meningkatnya potensi banjir rob pada Desember 2025, masyarakat di sepanjang pesisir Pidie diimbau terus memperbarui informasi, memperkuat koordinasi, dan mengutamakan keselamatan keluarga.(id69)












