BIREUEN (Waspada.id): Warga terdampak bencana di Desa Kubu, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, masih menghadapi krisis air bersih di lokasi pengungsian. Keterbatasan akses terhadap air layak konsumsi dan fasilitas sanitasi membuat kehidupan para pengungsi semakin rentan, terutama bagi perempuan, anak-anak, dan lansia.
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Pemberdayaan Anak dan Perempuan Bireuen Aceh (YPANBA) bersama Jejaring Masyarakat Kemanusiaan (JMK), dengan dukungan Penabulu, memasang satu unit skyhydrant di area pengungsian utama di Meunasah Kubu.
Fasilitas tersebut kini menjadi sumber utama air bersih bagi warga yang masih bertahan di pengungsian maupun sebagian masyarakat yang telah kembali ke rumah.
Ketua YPANBA, Ruwaida, mengatakan keterbatasan air bersih berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika tidak segera ditangani secara serius.
“Krisis air bersih sangat berisiko, terutama bagi kelompok rentan. Tanpa sanitasi yang layak, penyakit mudah muncul. Karena itu, kami berupaya memastikan distribusi air bersih tetap berjalan setiap hari,” ujar Ruwaida, Sabtu (24/1/2025).
Ia menambahkan, situasi darurat yang masih diperpanjang membuat kebutuhan air bersih semakin mendesak, sementara fasilitas permanen belum tersedia.
Relawan JMK, Olan Alfian, menjelaskan skyhydrant yang dipasang dilengkapi tiga titik kran dan dapat langsung digunakan sebagai sumber air minum. Selain pemasangan, relawan juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pemanfaatan air secara aman.
“Kami juga melatih aparatur desa agar mampu memantau kualitas air. Ini penting supaya air yang dikonsumsi warga benar-benar aman,” kata Olan.
Menurutnya, skyhydrant tersebut bersifat sementara dengan masa pemanfaatan sekitar tiga bulan. Ia berharap pemerintah daerah segera membangun sistem air bersih permanen bagi warga terdampak.
“Menjelang Ramadhan, kebutuhan air bersih akan semakin meningkat. Pemerintah perlu segera hadir dengan solusi jangka panjang,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah peralatan pendukung perawatan air juga telah diserahkan di lokasi pengungsian. Namun, kondisi fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di rumah-rumah warga masih jauh dari memadai.
Staf YPANBA, Desy, menyebut keterbatasan sanitasi memperparah situasi krisis yang dialami pengungsi.
“Banyak warga belum memiliki MCK yang layak. Ini sangat berisiko bagi kesehatan. Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak,” katanya.
Krisis air bersih di pengungsian Desa Kubu menjadi gambaran nyata tantangan pemulihan pascabencana di Bireuen. Kehadiran skyhydrant darurat membantu meringankan beban warga, namun solusi permanen masih sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat kembali hidup secara layak dan sehat. (Hulwa)










