BANDA ACEH (Waspada.id): Aktivitas jual-beli ternak di Pasar Hewan Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, terpantau tidak seramai biasanya.
Berdasarkan pantauan Waspada.id pada Rabu (28/1/2026), transaksi ternak di pasar tersebut terlihat lebih lengang dibanding pekan-pekan sebelum bencana hidrometeorologi melanda Aceh.
Petugas Pasar Hewan dari Dinas Pertanian dan Kesehatan Hewan Aceh Besar, Indra Gunawan, membenarkan adanya penurunan jumlah ternak yang masuk ke pasar. Ternak yang diperdagangkan, mulai dari bibit sapi, sapi pedaging, hingga kambing, jumlahnya pun lebih sedikit.
“Iya, memang sedikit menurun. Sebelum bencana, jumlah ternak yang masuk bisa mencapai 1.000 sampai 1.200 ekor setiap hari pasar. Sekarang hanya sekitar 700 sampai 800 ekor per pekan,” ujarnya.
Menurut Indra, dalam beberapa pekan terakhir, pasar hewan lebih banyak didominasi sapi bibit. Sementara stok sapi pedaging yang siap potong mulai menipis.
“Jumlah sapi pedaging memang tidak terlalu banyak seperti biasanya,” katanya.

Kondisi ini turut dirasakan para peternak. Mustafa, salah seorang peternak yang rutin berjualan di Pasar Hewan Sibreh, mengatakan harga ternak saat ini masih relatif stabil.
“Harganya masih normal, belum ada kenaikan yang signifikan. Biasanya tergantung jenis kelamin, umur, berat badan, dan kondisi ternak. Kisaran Rp20 juta sampai Rp40 juta per ekor,” ujarnya.
Meski demikian, Mustafa memprediksi harga sapi hidup maupun daging akan meningkat menjelang tradisi meugang menyambut Ramadan.
“Kenaikan pasti ada dan itu memang terjadi setiap menjelang meugang. Tapi berapa besarannya belum bisa dipastikan, meskipun ada isu impor daging atau bantuan sapi dari presiden,” katanya.
Ia memperkirakan harga sapi pedaging bisa naik hingga Rp2 juta per ekor seiring meningkatnya permintaan.
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Aceh Besar, Uzir, menyampaikan bahwa stok sapi di wilayah Aceh Besar saat ini masih tergolong aman.
“Stok masih mencukupi dan bisa memasok Banda Aceh, Sabang, bahkan Pidie seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya saat dihubungi Waspada.id.
Namun, Uzir mengakui penurunan pasokan ternak ke Pasar Hewan Sibreh tidak terlepas dari dampak bencana hidrometeorologi.
“Peternak dari luar Aceh Besar, seperti Bireuen dan Aceh Utara, yang biasanya masuk ke Sibreh, sekarang jumlahnya berkurang karena terdampak bencana,” jelasnya.
Selain itu, banyak peternak lokal memilih menahan ternaknya untuk dijual menjelang meugang atau memasarkan langsung di daerah masing-masing.
“Stok di daerah terdampak tentu terganggu, jadi peternak lebih berhati-hati,” lanjutnya.
Terkait isu bantuan sapi presiden dan rencana impor daging, Uzir mengaku belum menerima informasi resmi.
“Sampai hari ini belum ada pemberitahuan resmi soal bantuan sapi maupun impor daging. Saya baru dengar dari media,” katanya.
Meski demikian, pihaknya memastikan siap menjalankan instruksi apabila ada kebijakan lanjutan dari pemerintah.
“Kami siap mengawal kesehatan ternak dan distribusi daging jelang meugang dan Ramadan,” tegas Uzir. (Hulwa)











