SIGLI (Waspada.id): Menjelang dan selama perayaan Idulfitri, para pelaku usaha di wilayah Sigli diimbau untuk tetap menjaga kewajaran harga serta mengedepankan etika dalam melayani masyarakat. Imbauan ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut citra dan nama baik daerah di mata para pendatang.
Pemerhati sosial Aceh, M. Isa Alima, Kamis (26/3/2026), menegaskan bahwa momen Lebaran merupakan waktu yang sarat nilai, bukan sekadar perputaran ekonomi. Di Aceh, suasana hari raya lekat dengan tradisi silaturahmi, saling menghormati, serta semangat kebersamaan yang berakar kuat dalam ajaran Islam dan budaya lokal.
“Lebaran di Aceh itu bukan hanya soal ramai dan untung. Ini tentang adab, tentang bagaimana kita memuliakan tamu, menghargai sesama, dan menjaga nama baik daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat Aceh, khusnya Pidie dikenal sebagai masyarakat yang islami, yang menjadikan Syariat Islam sebagai pedoman hidup, sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai sosial seperti gotong royong, kepedulian, dan rasa kekeluargaan.
Dalam budaya Aceh, setiap interaksi sosial—termasuk dalam aktivitas ekonomi selalu diikat oleh etika dan tanggung jawab moral.
Dalam ajaran Islam, prinsip keadilan dalam berdagang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Mutaffifin ayat 1–3. “Celakalah bagi orang-orang yang curang”
Selain itu, dalam hadis, Nabi Muhammad bersabda “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
Lebih jauh, Isa Alima menyoroti bahwa Kabupaten Pidie memiliki potensi pariwisata yang terus berkembang dan menjadi tujuan kunjungan masyarakat, khususnya saat libur Lebaran. Sejumlah destinasi seperti Pantai Pelangi Pidie, kawasan Sigli, Bukit Cinta, dan Pantai Lhok Seumani, Kecamatan Batee, hingga wisata alam seperti Gua Tujoh Muara Tiga, Tangse, serta Geumpang menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun perantau.
Menurutnya, meningkatnya kunjungan ke destinasi tersebut harus diimbangi dengan sikap ramah, pelayanan yang baik, serta penetapan harga yang wajar. Hal ini penting agar para pengunjung membawa kesan positif saat kembali ke daerah asal mereka.
“Pariwisata kita sedang tumbuh. Jangan sampai tercoreng hanya karena pelayanan yang kurang baik atau harga yang tidak wajar. Kesan pengunjung itu sangat menentukan masa depan daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan, keramahan, kejujuran, dan sikap menghargai tamu merupakan bagian dari budaya Aceh yang harus terus dijaga, terlebih di kawasan yang menjadi tujuan kunjungan.
Sejumlah warga berharap suasana Lebaran tetap menjadi ruang mempererat hubungan sosial, sekaligus memperkenalkan wajah Pidie sebagai daerah yang islami, ramah, dan berbudaya.
Pemerintah daerah dan instansi terkait pun diharapkan turut melakukan pengawasan, agar aktivitas selama Lebaran tetap berjalan tertib dan mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat.
Di tengah ramainya perputaran ekonomi dan kunjungan wisata, ada pesan yang patut dijaga bersama: menjaga adab dalam setiap layanan, memuliakan tamu dengan keramahan, menetapkan harga dengan kejujuran,serta merawat nilai sosial dan budaya, agar marwah Pidie tetap terjaga. (Id69)













