“jika berharap dari anggaran APBK Aceh Tamiang yang hanya Rp1,1 T untuk proses Recovery Kabupaten Aceh Tamiang, maka hal itu sama saja seperti ingin menguras air laut pakai gayung”
Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang jelang akhir November 2025 telah membuat Kabupaten yang dijuluki sebagai Bumi Muda Sedia itu luluh-lantak porak-poranda diterjang air banjir bercampur lumpur dan kayu gelondongan yang hanyut menerjang pemukiman penduduk, lahan pertanian/perkebun milik rakyat, gedung sekolah, gedung pemerintahan, isfrastruktur jalan dan jembatan serta mengobrak-abrik bidang perekonomian, roda pemerintahan dan menghanyutkan sendi-sendi kehidupan sehingga menjadi carut marut .
Kabupaten Aceh Tamiang termasuk salah satu daerah yang paling parah dilanda banjir bandang yang terjadi November 2025. Kedalaman air banjir rata-rata mencapai 4 meter sampai dengan 5 meter merendam pemukiman penduduk.

Karang Baru sebagai pusat roda Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang lumpuh total dan Kota Kualasimpang yang merupakan kota tua sebagai pusat perdagangan juga lumpuh total.
Pantauan Waspada.id, Minggu (14/12), rumah penduduk, pertokoan, gedung sekolah, gedung Pemerintahan, lahan pertanian, perkebunan, perikanan (tambak) dan berbagai fasilitas publik lainnya hancur diterjang banjir dan lumpur .
Masih menurut Pantauan Waspada.id, Kabupaten Aceh Tamiang benar-benar lumpuh dan tidak berdaya untuk mempercepat rocovery Kabupaten Aceh Tamiang yang kini hanya tinggal puing-puing kehancuran akibat diterjang banjir .

Sudah hampir tiga pekan pasca banjir, situasi dan kondisi benar-benar morat-marit, lumpur masih merendam rumah warga dan rumah toko (Ruko), kedalaman lumpur mencapai 50 cm sampai 1 meter, bahkan ada yang lebih dari itu lumpur bersarang di rumah dan ruko di Kabupaten Aceh Tamiang.
Dari 12 Kecamatan dan 216 Kampung (desa) yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang hampir semuanya luluh-lantak akibat Sungai Tamiang mengamuk pada November 2025.
Bahkan, data terkini yang diperoleh Waspada.id dari Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Banjir 2025 Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (14/12), 57.146 Kepala Keluarga atau 208,1163 jiwa masih mengungsi di 11 kecamatan, sedangkan di Kecamatan Seruway tidak ada lagi warga yang mengungsi.
Selain itu, bencana alam Hidrometeorologi siklon tropis senyar November 2025 yang terjadi di Aceh Tamiang berdasarkan data per 14 Desember 2025 tercatat 18 orang luka-luka dan 66 orang sudah meninggal dunia.

Seluas 7,529 ha sawah, kebun 713 ha, pertanian 972 ha, perikanan 430,5 ha porak-poranda hancur terandam banjir. 1 jembatan rangka baja yang menghubungkan Kecamatan Sekerak-Kecamatan Bandar Pusaka di Lubuk Sidup hanyut diterjang banjir bercampur kayu balok. Masih banyak insfrastruktur lainnya yang hancur babak belur diterjang banjir yang sangat dasyat itu sepanjang sejarah Kabupaten Aceh Tamiang.
Berdasarkan analisis Waspada.id, jika berharap dari anggaran APBK Aceh Tamiang yang hanya Rp1,1 T untuk proses Recovery Kabupaten Aceh Tamiang, maka hal itu sama saja seperti ingin menguras air laut pakai gayung.
Karena itu, tentu saja untuk mempercepat Rocovery Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Pusat harus segera turun tangan agar Kabupaten Aceh Tamiang benar-benar pulih dan aktivitas bisa berjalan normal kembali.
Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs Armia Pahmi, MH ketika dikonfirmasi Waspada.id di Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Banjir Aceh Tamiang 2025, Minggu (14/12), mengatakan, dirinya sudah menyampaikan berbagai hal yang dibutuhkan bagi Kabupaten Aceh Tamiang kepada Presiden RI, Prabowo Subianto ketika Presiden berkunjung ke Aceh Tamiang, Jumat (12/12) .
“Saya sudah memaparkan situasi darurat, dampak masif bencana, serta mengajukan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah ini, “ungkap Armia.
Bupati menjelaskan musibah yang melanda Aceh Tamiang diklasifikasikan sebagai bencana hidrometeorologi yang memicu hujan badai, tanah longsor hingga banjir bandang yang merusak infrastruktur secara meluas.

Armia juga merinci dampak kerusakan yang dialami, termasuk hilangnya satu kampung serta hancurnya sejumlah rumah di dataran rendah seperti Kampung Sukajadi, terputusnya akses jalan utama, dan lumpuhnya fasilitas publik. Ia juga memaparkan langkah-langkah tanggap darurat yang telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.
“Untuk saat ini pada masa tanggap darurat memprioritaskan kebutuhan bagi warga terdampak banjir yaitu kebutuhan makan-minum, air bersih, obat-obatan dan lain-lain, termasuk membersihkan lumpur di badan jalan untuk membuka akses transportasi ,”ungkapnya.
Bupati Aceh Tamiang mengatakan dirinya sudah menyampaikan kepada Presiden terkait hal kebutuhan strategis daerah untuk fase pemulihan. Kebutuhan ini mencakup percepatan rehabilitasi infrastruktur dasar yang rusak serta perencanaan rekonstruksi permukiman warga. (Muhammad Hanafiah/WASPADA.id)













