AcehPendidikan

Peneliti UIN Ar-Raniry Kembangkan Material Baterai Ramah Lingkungan

Peneliti UIN Ar-Raniry Kembangkan Material Baterai Ramah Lingkungan
Tim peneliti UIN Ar-Raniry memaparkan hasil riset mereka kepada media. Waspada/Munawardi
Kecil Besar
14px

BANDA ACEH (Waspada.id): Tim peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mengembangkan material baterai ramah lingkungan berbasis tumbuhan yang berpotensi meningkatkan kinerja baterai lithium-ion. Inovasi ini dinilai dapat mendukung pengembangan teknologi energi masa depan sekaligus memperkuat upaya kemandirian energi nasional.

Penelitian tersebut dipimpin Dr Abd Mujahid Hamdan dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry. Tim peneliti juga melibatkan Muslem, Syafrina Sari Lubis, dan Sri Nengsih dari UIN Ar-Raniry serta Akhyar Ibrahim dari Universitas Syiah Kuala.

Riset ini turut berkolaborasi dengan sejumlah lembaga penelitian nasional, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta fasilitas riset di Universitas Negeri Surakarta melalui Pusat Unggulan Iptek.

Dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan material komposit nikel oksida (NiO) dan grafit yang disintesis menggunakan metode green synthesis. Metode ini memanfaatkan ekstrak tumbuhan sebagai agen reduksi dan stabilisasi pembentukan nanopartikel, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan proses sintesis kimia konvensional yang menggunakan bahan kimia berbahaya.

Material komposit tersebut digunakan sebagai anoda baterai lithium-ion, yaitu komponen yang berfungsi menyimpan ion lithium saat proses pengisian energi. Pada baterai lithium-ion konvensional, anoda umumnya menggunakan grafit karena stabil dan memiliki kemampuan penyimpanan ion lithium yang baik.

Hasil penelitian menunjukkan material yang dikembangkan memiliki kapasitas penyimpanan energi sekitar 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan grafit komersial. Selain itu, material tersebut juga menunjukkan efisiensi coulombic mencapai sekitar 99 persen.

Efisiensi coulombic merupakan indikator penting dalam teknologi baterai yang menggambarkan besarnya energi yang dapat digunakan kembali setelah proses pengisian. Nilai yang mendekati 100 persen menunjukkan energi yang tersimpan dalam baterai dapat dilepaskan kembali dengan kehilangan yang sangat kecil.

Menurut Mujahid, pendekatan green synthesis membuka peluang besar dalam pengembangan teknologi baterai yang lebih berkelanjutan.

“Material yang kami kembangkan menunjukkan bahwa teknologi baterai berkapasitas tinggi dapat diproduksi melalui pendekatan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Mujahid saat kegiatan diseminasi hasil riset UIN Ar-Raniry di Solong Pango, Banda Aceh, Senin (9/3).

Penelitian ini didanai melalui program MORA The AIR Fund, skema pendanaan riset hasil kerja sama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puspenma) Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman MAg mengapresiasi capaian tim peneliti tersebut. Ia menilai hasil riset ini menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi masa depan.

“Kami mengapresiasi capaian para peneliti UIN Ar-Raniry yang mampu menghasilkan inovasi di bidang teknologi material baterai,” ujarnya.

Menurut Mujiburrahman, dukungan program MORA The AIR Fund menunjukkan adanya sinergi antara kebijakan pemerintah dan riset perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi strategis bagi bangsa.

Pengembangan material baterai ramah lingkungan saat ini menjadi fokus riset global untuk mendukung teknologi kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi terbarukan, serta transisi menuju ekonomi hijau.

Ke depan, tim peneliti berencana melanjutkan riset pada tahap optimasi material, pengujian performa jangka panjang, serta pengembangan skala produksi agar teknologi tersebut dapat mendukung industri baterai nasional.

Dalam Program Riset Indonesia Bangkit 2026, UIN Ar-Raniry juga berhasil meloloskan dua tim peneliti. Tim yang dipimpin Inayatillah memperoleh pendanaan Rp350 juta untuk dua tahun, sementara tim yang dipimpin Zya Dyena Meutia mendapatkan Rp500 juta untuk periode yang sama.

Sebelumnya, pada 2025, tim peneliti yang diketuai Mujahid juga berhasil memperoleh pendanaan riset sebesar Rp5 miliar untuk jangka waktu tiga tahun. (id64)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE