PIDIE (Waspada.id): Gelombang pagi di muara Kuala Batee kembali merenggut nyawa. Seorang nelayan muda dari Gampong (Desa-red), Nehen, Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie, M Zaini Adam, 32, ditemukan meninggal du ia setelah perahu kecil yang ia kemudikan terbalik pada Rabu (4/2/2026).
Menurut keterangan Panglima Laot Lhok, Pasie Beurandeh, Bate, Zakaria, Zaini berangkat melaut sekitar pukul 05.00 WIB, waktu yang biasa ia pilih untuk mencari ikan di sekitar wilayah pesisir. Pagi itu tidak ada tanda bahaya, namun seperti sering terjadi di kawasan muara, arus dan gelombang dapat berubah dalam waktu singkat.
Saat tiba di depan mulut muara, perahunya diduga kandas pada dasar dangkal sebelum dihantam gelombang yang membuatnya telungkup. Dalam kondisi itu, korban diduga sulit keluar dari bagian dalam perahu.
Seorang nelayan lain yang hendak berangkat melaut melihat perahu Zaini dalam keadaan terbalik. Ia berupaya memeriksa keadaan, namun ombak yang masih tinggi menyulitkannya untuk membalikkan perahu seorang diri.
Ia kemudian kembali ke kampung untuk meminta bantuan. Sejumlah nelayan setempat turun ke lokasi dan setelah beberapa kali usaha, berhasil membalikkan perahu. Zaini ditemukan sudah tidak bernyawa.
Jenazah kemudian dievakuasi ke Desa Nehen. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi dan menganggap kejadian itu sebagai musibah di laut. Prosesi pemakaman dilakukan pada hari yang sama dengan dihadiri warga dan rekan sesama nelayan.
Perlindungan Nelayan Perlu Diperkuat
Panglima Laot Kabupaten Pidie, Marfian AS, menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut. Menurutnya, kawasan muara Kuala Batee memang termasuk titik rawan bagi nelayan kecil.
“Arus dan ombak di muara itu sering berubah tiba-tiba. Untuk perahu kecil seperti milik almarhum, kondisinya memang sangat berisiko. Kami turut berduka, dan ini seharusnya menjadi perhatian bersama,” kata Marfian, Rabu (4/2).
Ia mencatat bahwa insiden serupa bukan sekali ini terjadi. “Dalam tahun ini saja, sudah dua nelayan kami meninggal. Ini kondisi yang sangat memprihatinkan bagi komunitas nelayan di Pidie,” ujarnya.
Karena itu, ia kembali meminta dukungan perlengkapan keselamatan bagi nelayan tradisional di wilayahnya.
“Kami sangat berharap bantuan kotak P3K dan life jacket bisa diberikan kepada nelayan kami. Upaya sederhana seperti itu sangat membantu meminimalisir risiko korban jiwa. Nelayan bekerja setiap hari dengan risiko tinggi, dan perlindungan dasar sangat penting,” tegasnya.
Harapan Perubahan
Insiden ini menambah daftar kecelakaan laut yang terjadi di wilayah pesisir Pidie. Warga dan nelayan berharap ada peningkatan edukasi keselamatan dan dukungan alat pelindung, terutama bagi mereka yang bekerja dengan perahu kecil dan peralatan seadanya.
Zaini dikenal sebagai nelayan rajin dan menjadi tulang punggung keluarga. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Nehen, sekaligus mengingatkan kembali pentingnya upaya kolektif untuk meningkatkan keselamatan nelayan tradisional. (id69)











