Peringati Milad GAM, KPA Langsa Santuni 250 Anak Yatim

- Aceh
  • Bagikan
Ketua KPA Wilayah Langsa, Tgk Burhansyah, SH saat membacakan sambutan Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar pada Peringatan Milad ke-47 GAM di halaman Masjid Babussalam Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Senin (4/12). Waspada/dede
Ketua KPA Wilayah Langsa, Tgk Burhansyah, SH saat membacakan sambutan Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar pada Peringatan Milad ke-47 GAM di halaman Masjid Babussalam Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Senin (4/12). Waspada/dede

LANGSA (Waspada): Peringati Milad ke-47 Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Langsa memberi santunan kepada 250 anak yatim di halaman Masjid Babussalam Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Senin (4/12).

Hadir Gubernur GAM Wilayah Langsa, Tgk Anhar Budiman/Nek Eh, Panglima Wilayah Langsa, Tgk Burhansyah, SH/Polda, Wakil Panglima Wilayah, Tgk Marzuki/Dan Acong, Komandan Operasi Wilayah, Tgk Rusba/King, Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, Irfansyah, Anggota DPRK Langsa dari Partai Aceh, Maimul Mahdi, Syamsul Bahri alias Robert dan Zulkifli Latif dan undangan.

Tampak hadir, Panglima Daerah 1, Tgk Hamdan/Kijang, Panglima 2, Tgk Syahrul/Juragan, Panglima Sagoe Langsa Kota, Tgk Saiful/Moro, Panglima Sagoe Langsa Lama, Tgk M Yusuf, Panglima Sagoe Paya Bujok, Tgk Husaini/Impeun, Panglima Sagoe Sungai Pauh, Tgk Labullah/Keeng, Panglima Sagoe Aramiah, Tgk Nurdin Juned/PS Teh, Panglima Sagoe Kuala Pusong dan Panglima Sagoe Peuto.

Peringati Milad GAM, KPA Langsa Santuni 250 Anak Yatim
Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, Irfansyah saat menghadiri acara Peringatan Milad ke-47 GAM di halaman Masjid Babussalam Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Senin (4/12). Waspada/dede

Ketua KPA Wilayah Langsa, Tgk Burhansyah, SH biasa disapa Polda membacakan sambutan Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar mengatakan, hari ini tepatnya 4 Desember 2023, sama-sama kita bisa mengenang kembali sejarah yang berkaitan langsung dengan perjuangan Aceh.

Di mana, perjuangan rakyat Aceh ini sangatlah panjang, mulai dari pertama menghadapi agresi Belanda pada tahun 1873, Jepang pada tahun 1942-1945, DI/TII pada tahun 1953-1960 dan perang bersenjata melawan Pemerintah Republik Indonesia selama 29 tahun, yang mulai pada tahun 1976 dan berakhir pada tahun 2005 dengan satu nota kesepahaman perdamaian pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

Pada 47 tahun yang lalu, sambungnya, penuh dengan pertimbangan sejarah dan aturan-aturan hukum internasional serta keberanian dan tekad Paduka Wali Nanggroe Almarhum DR. Tengku Tjhik Di Tiro Hasan ben Muhammad beserta para sahabatnya mendeklarasikan kemerdekaan kembali untuk Aceh di pegunungan Halimon, Pidie. Di saat itu pula, almarhum mengibarkan bendera Bintang Bulan sebagai bendera negara Aceh.

“Perjuangan yang dirintisnya, kini memasuki 47 tahun dan telah tercatat berbagai peristiwa yang pernah terjadi sampai tahun 2005 dan hari ini dan menjadi suatu sejarah baru yang perlu dikembangkan dan diajarkan kepada generasi kita bahwa kita tak boleh berhenti, namun harus terus bergerak sampai berdampak pada tujuan akhir dari cita-cita perjuangan suci ini. Khusus milad GAM tahun ini, bertemakan’Terus Melangkah, Menjemput Cita-Cita’ berkeadilan sejahtera dan bermartabat untuk semua bangsa Aceh,” ungkap Burhansyah yang juga anggota DPRK Langsa.

Lanjutnya, tentu dengan peran besar seluruh anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) di seluruh Aceh dalam rangka menggalang kolaborasi yang universal maka telah terbentuk rasa kebersamaan di berbagai wilayah dalam menyongsong kemenangan. Terlebih lagi dalam hitungan puluhan hari ke depan, kita akan menghadapi kontestasi politik untuk pemilihan para anggota legislatif yang diusung oleh Partai Aceh, baik untuk kabupaten/kota maupun Aceh.

Tak terhenti di situ saja, beberapa bulan setelah pemilu, kita akan berhadapan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada), yang tentunya Partai Aceh juga akan mengusung kandidatnya, baik untuk Bupati/Wakil Bupati, Wali Kota/Wakil Wali Kota maupun Gubernur/Wakil Gubernur.

“Dalam momentum ini, sangat diperlukan gagasan dan ide cemerlang dari kita, yang bermula dari proses awal perjuangan yang telah, sedang dan akan kita jalankan di masa-masa akan datang, sehingga dunia internasional dan pemerintah bisa melihat bahwa, apa yang Aceh lakukan hari ini adalah demi hak asasi dan kebebasan dalam mewujudkan pemerintahan sendiri (self government) yaitu pemerintahan rakyat aceh yang adil dan demokratis,” ujarnya.

Untuk mewujudkan pemerintahan sendiripun, sambung Polda lagi, harus kita rujuk pada tujuan dasar para pendahulu dan leluhur kita, mereka memikirkan dan membentuknya dalam sebuah gagasan serta tertuang dalam sebuah dokumen, yang dituntut pada kita semua untuk melaksanakan demi tercapainya tujuan yang dimaksud dalam butir-butir MoU Helsinki dan Undang-undang Pemerintahan Aceh.

Satu keberhasilan awal, dalam masa 29 tahun berkonflik, telah tercapainya perdamaian antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Sebagai rakyat Aceh dan para pejuang GAM selalu dirundung rasa keprihatinan, apakah di usia yang memasuki 19 tahun proses perdamaian ini sudah tercapai cita-cita dan tujuan yang dimaksud dalam butir-butir MoU Helsinki.

“Sebagai rakyat yang sejati dan pejuang yang tangguh, harus bisa membaca, melihat, mendengar, memahami, merasakan dan mengintropeksikan diri, apakah kita telah berbuat banyak untuk bangsa Aceh ini, baik dalam mengisi masa transisi (perdamaian) maupun dalam mempersiapkan diri untuk mencapai dan meraih kemenangan, ataukah kita berada pada posisi terpuruk dan kebigungan dalam berbagai bentuk regulasi?,” sebutnya.

Dalam hal ini, kita tidak boleh membanggakan diri di segala bidang, bahkan dalam masa perdamaian ini, akan tetapi kebanggaan itu bisa ditunjukan ketika tujuan akhir (finishing) sudah tergenggam di tangan kita semua.

Kebanggaan tersebut, harus dijaga agar tidak menjadi lengah dan terbuai dengan metafora yang diucapkan serta membuat Aceh kembali terjajah. Maka, yang sangat dibutuhkan adalah rasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kekuatan dan kesolidan dalam melalui berbagai rintangan di masa lalu.

Burhansyah menegaskan kepada anggota KPA seluruh Aceh, Kepengurusan Partai Aceh serta seluruh underbow (MUNA, Putroe Aceh, Inong Balee, Muda Seudang Aceh dan JASA) agar tetap menjadi bangsa yang besar yang dapat berdiri sendiri atas dasar tujuan dan cita-cita dari leluhur kita.

“Kita tidak boleh menjadi bangsa miskin dan bodoh, yang hanya bisa menghabiskan hasil dan kandungan alam secara menyeluruh, kita harus terus belajar dan berjuang,” tandasnya.(b13)

Baca juga:

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *