BIREUEN (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Bireuen, mengakui tidak mengusulkan pembangunan hunian sementara (huntara) kepada warga korban banjir bandang di Kabupaten Bireuen.
Hal itu disampaikan Pj Sekda Bireuen Hanafiah dalam audiensi dengan Gerakan Masyarakat Sipil dengan Pemerintah Kabupaten Bireuen yang melibatkan unsur legislatif dan eksekutif di Ruangan Badan Musyawarah Gedung DPRK Bireuen, Selasa (10/3).
“Mengusulkan tidak, menolak juga tidak. Seperti di Gampong Kubu, saat Bupati turun bersama Kepala BNPB, masyarakat sendiri yang memohon agar langsung dibangun huntap di tanah mereka,” kata Hanafiah.
Hanafiah mencontohkan sebenarnya terdapat lahan milik pemerintah di kawasan Cot Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, yang dapat digunakan untuk membangun hunian sementara secara terpusat.
“Misalnya ada tanah pemerintah di Cot Batee Geulungku, lalu kita bawa mereka ke sana dengan mobil pemerintah. Skemanya seperti itu,” kata dia.
Namun apa yang disampaikan oleh Pj Sekda Hanafiah tersebut, itu bertolak belakang dengan informasi yang dihimpun oleh Waspada.id dari para korban banjir bandang di Kabupaten Bireuen.
Mayoritas dari mereka yang hingga kini masih bertahan di tenda darurat, seperti di Gampong Salah Sirong Kecamatan Jeumpa, Gampong Pante Lhoeng, Desa Kapa Kecamatan Peusangan.
Korban banjir bandang di Gampong Salah Sirong Nasir Ahmat, 45, bersama istri, Adiana, di tenda pengungsian kepada Waspada.id Selasa (17/2) mengatakan, mereka terpaksa tinggal di tenda pengungsi, karena rumah mereka tempati sebelumnya telah dihantam banjir besar yang terjadi akhir November tahun lalu.
“Kami pengungsi saat ini yang sangat terpenting yaitu rumah yang layak untuk kami tinggal. Ini huntara tidak ada huntap juga belum ada, maka kami sekarang ini sangat mengharapkan tempat tinggal yang layak untuk bisa langsung ditempati, jangan terus menerus tinggal di tenda di lingkungan masjid,” terang Rusli.
Mutia korban banjir bandang di gampong yang sama, mengaku merasa tidak punya pilihan lain selain bertahan di situ, karena tidak ada lagi bekas atap rumah seperti sebelum kejadian. “Dengan kondisi yang sulit kami rasakan. Kami sangat menginginkan pemerintah agar membangun hunian sementara, sambil menunggu hunian tetap, karena kami tidak sanggup lagi di tenda pengungsi ini,” harapnya dengan penuh harapan jelang momen Idul Fitri.
Rizka Devina, salah satu korban banjir yang tinggal di Hunian Darurat Pante Lhoeng Peusangan, mengaku kehilangan semua harta benda hingga rumahnya dan meminta perhatian pemerintah agar mendapatkan hunian sementara layak sebelum bulan Ramadhan.
“Kami sangat mengharapkan keadilan dari pemerintah. Hunian Sementara (Huntara) sangat kami butuhkan, tidak mungkin kita tinggal di sini tanpa tahu kapan akan selesai,” harapnya. (Id73)













