LHOKSEUMAWE (Waspada.id): Ketua Umum Yayasan Misbahul Ulum Kota Lhokseumawe, Drs. H. Zainal Abidin MK, M.Pd, mewisuda 50 santri kitab kuning, di Aula Teuku Umar, Komplek Pesanten, Gampong (desa) Paloh Meuria, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Kamis (29/1) pagi.
Kegiatan wisuda baca kitab kuning yang dilaksanakan oleh pesantren modern tersebut, merupakan wisuda perdana di Provinsi Aceh, program Al Miftah Lil Ulum Sidogiri.
Program baca kitab Turast praktis ini kerap disebut dengan metode Al-Miftah Lil Ulum karena keunikan sistematika pembelajarannya. Para santri yang mengikuti program ini hanya membutuhkan waktu selama delapan bulan untuk dapat membaca kitab Turast dengan benar.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Yayasan Misbahul Ulum, Drs. H. Zainal Abidin, M.K., M.Pd., menyampaikan bahwa di Aceh hanya Pesantren Misbahul Ulum yang menerapkan pembelajaran membaca kitab turast praktis yang berpedoman pada metode Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri.
“Setelah enam tahun penyelenggaraan pembelajaran Kitab Turats, untuk pertama kalinya digelar Wisuda Kitab Turats Program Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri.”
Ia juga menambahkan, Pesantren Modern Misbahul Ulum telah melewati berbagai kerja sama dalam memajukan pembelajaran Kitab Turats agar para santri dapat belajar dengan cepat dan praktis dengan metode yang mudah dipahami.
“sejak tahun 1993 Pesantren ini telah mempelajari kitab kitab turast, namun enam tahun terakhir kita meningkatkan pola pembelajarannya dengan metode Al-Miftah Lil Ulum” katanya.
Kemudian, Direktur Pesantren Modern Misbahul Ulum Ustadz Martunis, S.Pd., Gr., M.Hum., juga menambahkan agar disaat anak anak melangsungkan pembelajaran, para orangtua dapat dengan penuh mendukung rangkaian pembelajaran.
“Kami berharap dari bapak ibu untuk memberi dukungan kepada anak anaknya agar semangat dalam mengikuti pembelajaran kitab turast,” ujarnya.
Selanjutnya, Ustadz Ahmad Ridho Abdul Muhyi selaku penanggungjawab Program Kitab Turats dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur dengan metode Al-Miftah Lil Ulum mengatakan wisuda kitab kuning tidak hanya bersifat formalitas belaka, tetapi juga bertujuan membentuk santri dan santriah agar mengamalkan ilmunya serta menjadi hamba-hamba Allah yang saleh.
“Tidak semua orang bisa mengikuti prosesi wisuda karena ada serangkaian test yang harus dilewati, terutama dalam membaca Kitab,” kata Ustadz Ridho
Ia juga menambahkan bahwa anak-anak yang diwisuda hari ini telah melewati serangkaian tes dari pembimbing Kitab Turast Sidogiri sehingga bisa mengikuti prosesi wisuda. (id70)











