BLANGPIDIE (Waspada.id): Implementasi Program Peukong Agama di Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), mulai memasuki fase konsolidasi.
Camat Manggeng, Ridhawiyardi, memilih jalur safari Ramadan sebagai ruang strategis, untuk memastikan kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai norma di atas kertas.
Berlandaskan Peraturan Bupati Abdya Nomor 41 Tahun 2025, program ini diarahkan untuk memperkuat sendi kehidupan keagamaan berbasis Desa. Namun bagi Camat Ridhawiyardi, regulasi tanpa pengawalan lapangan, berisiko kehilangan daya dorong.
Karena itu, ia turun langsung menyambangi masjid-masjid, berdialog dengan masyarakat, serta menegaskan peran sentral Kepala Desa sebagai penggerak utama.
“Kades bukan sekadar administrator desa. Mereka adalah simpul kepemimpinan sosial. Jika aparatur desa bergerak, masyarakat akan mengikuti,” tegasnya dalam kunjungan safari Ramadan di Desa Sejahtera, Jumat malam (27/2) lalu.
Pendekatan yang dibangun bukan seremonial, melainkan konsolidatif. Camat Ridhawiyardi mendorong agar setiap desa memiliki langkah konkret, dalam menjalankan Peukong Agama. Mulai dari penguatan kegiatan keagamaan, pembinaan generasi muda, hingga penguatan budaya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Menurutnya, stabilitas dan harmoni sosial menjadi fondasi penting, bagi efektivitas program tersebut. Ia mengingatkan bahwa konflik kecil yang tidak dikelola dengan bijak, dapat menggerus energi pembangunan. “Musyawarah harus menjadi tradisi. Ketika masyarakat solid, program apa pun akan lebih mudah dijalankan,” ujarnya.
Di sela agenda Saweu Gampong, perhatian Camat juga tertuju pada penguatan ekonomi lokal. Ia menilai Pantai Ujong Manggeng sebagai aset strategis yang dapat menopang pendapatan masyarakat, jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Pengembangan sektor wisata katanya, harus dibarengi kesadaran kolektif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tanpa itu, potensi ekonomi justru bisa menjadi beban ekologis.
Langkah intensif yang dilakukan Pemerintah Kecamatan Manggeng ini, menunjukkan bahwa Peukong Agama diposisikan bukan hanya sebagai program keagamaan, melainkan sebagai instrumen pembangunan sosial yang terintegrasi.
Safari Ramadan menjadi medium konsolidasi menyatukan visi antara pemerintah Kecamatan, aparatur desa dan masyarakat.
Dengan pendekatan langsung dan berbasis dialog, Kecamatan Manggeng tampak ingin memastikan satu hal: bahwa kebijakan publik harus hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar tertulis dalam lembaran regulasi.(id82)












