Malam Idul Fitri bukan sekadar pergantian waktu, tetapi peralihan jiwa. Ia datang membawa hening yang syahdu, namun juga riuh yang merindu. Di langit-langit keyakinan, takbir berkumandang, bukan hanya sebagai suara, melainkan sebagai makna yang menggetarkan dada.
Di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, gema itu akan kembali disiapkan untuk hidup. Lomba Gema Takbir Idul Fitri 1447 H/2026 M bukan sekadar agenda tahunan, tetapi upaya merawat tradisi yang sarat nilai, menjaga syiar agar tetap bernyawa, tetap bernada.
Pemerintah daerah setempat bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI) memahami satu hal, malam kemenangan tidak boleh sunyi, tetapi juga tidak boleh kehilangan arti. Maka takbir diarak, disusun, diperlombakan agar ia terdengar lebih luas, terasa lebih dalam.
Namun di balik gemerlap lampu hias dan iring-iringan kendaraan, ada pertanyaan yang pelan tetapi tajam, apakah gema ini masih sepenuhnya syiar, atau mulai berubah menjadi sekadar gelar?
Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Pidie, drh. H. Fazli, M.Si, Rabu (18/3/2026) mengingatkan dengan nada yang tidak tinggi, tetapi cukup berarti. “Takbir bukan hanya untuk diramaikan, tetapi untuk dimuliakan. Ia harus dijaga adabnya, dijaga maknanya,” ujarnya pasti.

Pesan itu sederhana, namun tidak selalu mudah dijaga. Sebab ketika lomba hadir, semangat berubah arah. Dari mengagungkan, bisa saja menjadi mengunggulkan. Dari beribadah, bisa tergelincir menjadi berlomba tanpa arah.
Padahal Al-Qur’an telah lebih dulu menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, agar kamu bersyukur.” Takbir adalah pengagungan, bukan sekadar pertunjukan.
Meski begitu, denyut masyarakat tidak bisa diabaikan. Gema takbir tahun ini benar-benar lintas wilayah. Peserta datang dari berbagai kecamatan seperti Simpang Tiga, Keumala, Mutiara, Glumpang Tiga, Batee, Padang Tiji, Indrajaya, Peukan Baro, Mutiara Timur, hingga wilayah lainnya yang turut ambil bagian dalam memeriahkan malam kemenangan.
Dari gampong ke gampong, dari lorong ke jalan utama, semangat itu bergerak. Setiap kecamatan membawa ciri khasnya sendiri, ada yang menonjolkan kekuatan suara, ada yang mengedepankan dekorasi, ada pula yang mengandalkan kekompakan.
Di atas kendaraan hias, identitas dibawa, kreativitas ditata, keyakinan disuarakan. Di sana, tradisi tidak sekadar dilestarikan, tetapi juga ditafsirkan ulang oleh generasi yang terus bergerak.
Rahmad, seorang warga Sigli, menyebutnya dengan bahasa yang sederhana namun mengena. “Ini bukan sekadar tontonan, ini kebersamaan. Malam jadi hidup, hati jadi dekat,” katanya lirih.
Siti Aisyah menambahkan dengan harap yang tidak berlebihan. “Ramai itu baik, tetapi jangan sampai lupa: ini ibadah, bukan sekadar meriah,” ujarnya teduh.
Sementara di jalanan, suara lain muncul. M. Nasir, sopir lintas Sigli–Beureunuen, melihat dari sisi yang berbeda. “Memang macet, tetapi ini sekali setahun. Kalau tertib, semua bisa jalan,” ucapnya datar.
Di sinilah harmoni diuji. Antara riuh dan tertib, antara semangat dan batas, antara jalan dan tujuan. Panitia telah menyiapkan aturan, merancang alur, bahkan menyediakan hadiah hingga Rp85 juta.
Juara pertama Rp20 juta, kedua Rp17 juta, ketiga Rp15 juta. Disusul kategori favorit masing-masing Rp10 juta, Rp8 juta, Rp6 juta, serta dekorasi terfavorit Rp4 juta, Rp3 juta, dan Rp2 juta.
Angka-angka itu menggoda. Ia bisa menjadi pemantik semangat, tetapi juga berpotensi menggeser niat. Di titik ini, lomba diuji: apakah tetap menjadi syiar, atau berubah menjadi sekadar kejar.
Hadis Nabi SAW mengajarkan, takbir dikumandangkan sejak langkah pertama menuju tempat salat. Artinya, takbir bukan sekadar suara yang keluar, tetapi perjalanan yang mengalir.
Jika ini dipahami, maka gema takbir tidak akan kehilangan arah. Ia tidak hanya terdengar, tetapi juga menyentuh. Tidak hanya ramai, tetapi juga bermakna.
Dan di antara riuh itu, seharusnya kita kembali mengingat, bahwa takbir bukan sekadar kata, melainkan doa yang nyata.
Bukan hanya suara yang menggema di jalan raya,tetapi zikir yang bergetar dalam dada yang setia. Bukan sekadar lampu yang terang di malam pesta,tetapi cahaya iman yang hidup dalam jiwa manusia. Bukan hanya langkah kendaraan yang berlomba-lomba, tetapi langkah hati yang pulang menuju-Nya.
Pidie sedang berdiri di persimpangan makna. Ia bisa memilih menjadi meriah tanpa arah, atau bermakna dalam gerak. Ia bisa sekadar bersuara, atau benar-benar menggema.
Pada akhirnya, takbir bukan soal siapa yang paling keras, tetapi siapa yang paling ikhlas.
Bukan siapa yang paling indah, tetapi siapa yang paling berserah.Sebab malam kemenangan bukan hanya tentang apa yang terdengar, melainkan tentang apa yang tersimpan dan tetap bergetar.
Jika takbir hanya menggema di udara, ia akan hilang bersama angin, namun jika ia hidup di dada, ia akan tinggal menjadi iman yang tidak mungkin pergi lagi.
Muhammad Riza











