Air itu datang tanpa aba-aba. Bukan dentum kembang api yang mengabarkan pergantian tahun, melainkan suara berat dari hulu, batu beradu, kayu patah, lumpur diseret arus.
Sore Kamis, 1 Januari 2026, warga Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie kembali menatap sungai dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi cemas, lelah, dan pasrah.
Di alur Krueng Inong, air berwarna coklat pekat meluncur tanpa kompromi. Ia membawa lebih dari sekadar luapan: lumpur, bebatuan, batang kayu, juga ketakutan lama yang kembali hidup. Jalan-jalan kecil tertutup.
Beberapa warga menyeberang dengan bertumpu pada kayu yang disusun seadanya. Setiap langkah adalah pertaruhan antara jatuh dan selamat. “Ini bukan cuma air. Banjir susulan di Blang Pandak sore tadi membawa lumpur dari hulu, sehingga lumpur kembali masuk ke rumah-rumah warga,” kata Muhammad Rabiul, Kepala Pelaksana BPBD Pidie.
Bagi warga Blang Pandak, lumpur bukan kisah baru. Dini hari 25 November 2025, banjir bandang lebih dulu mengoyak gampong ini. Pukul empat pagi, warga berlarian ke perbukitan, meninggalkan rumah dalam gelap dan hujan. Tiga dusun, Unuen, Teungoh, dan Wiew tenggelam.

Sebanyak 1.022 orang mengungsi: balita, lansia, ibu hamil, bercampur dalam kepanikan yang tidak sempat diberi nama. Data gampong ( desa) mencatat, Blang Pandak dihuni 1.625 jiwa dari 443 kepala keluarga. Sebanyak 23 hektare sawah rusak.
Jalan permukiman sepanjang lima kilometer hancur. Irigasi terputus. Banjir memang pergi, tetapi tidak sepenuhnya meninggalkan gampong. Lumpur mengering di sudut rumah, di lantai meunasah, dan di ingatan warga.
Awal 2026, hujan kembali mengguyur kawasan hulu Ule Gunong Tangse. Sungai-sungai naik watak. Tidak hanya Krueng Inong, tetapi juga Krueng Baro yang meluap dan merendam gampong-gampong lain. Klibeut, Dayah Tutong, Gampong Pukat Gampong Barat, Sangeu, Cot Geundok, hingga Alue Calong.
Jalan utama terputus. Aktivitas terhenti. Tangse seolah ditarik mundur oleh air. Abdullah, 39 tahun, masih mengingat sore itu. “Lagi shalat, tiba-tiba air masuk,” katanya. Ia sempat menyelamatkan peralatan listrik. Kasur tidak keburu diangkat. “Basah semua ” katanya.
Petugas BPBD, TNI, dan Polri kembali turun ke lapangan. Pendataan diulang. Warga diminta bersiap mengungsi. Namun ada yang tak tercatat dalam formulir bencana: kelelahan kolektif. Luka lama belum kering, lumpur sudah datang lagi.
Banjir di Tangse bukan sekadar peristiwa alam. Ia berulang, berpola, dan selalu bermula dari hulu. Setiap hujan panjang, sungai berubah watak. Setiap awal tahun, kekhawatiran kembali mengendap di rumah-rumah warga Blang Pandak.
Tahun 2026 baru saja dimulai. Namun bagi sebagian warga Pidie, tahun ini lebih dulu dibuka oleh lumpur.
Muhammad Riza
.











