AcehFeatures

Polres Pidie Dan Pagi Yang Lebih Dini, Catatan Hidup Aipda Saifuddin

Polres Pidie Dan Pagi Yang Lebih Dini, Catatan Hidup Aipda Saifuddin
Aipda Saifuddin, SH, Bintara Polres Pidie, mengangkat papan telur hasil ternak bebeknya di kandang sederhana, Gampong Seupeng Ulee Cot, Kecamatan Peukan Baro, Senin (26/1). Waspada.id/Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

“Hanya hitungan sederhana dan keyakinan bahwa pasar telur tidak pernah tidur” (Aipda Saifuddin)

Pagi di Gampong Seupeng Ulee Cot belum sepenuhnya terang ketika Aipda Saifuddin, S.H. sudah berdiri di depan kandang bebeknya.

Jam masih menunjukkan sekitar pukul enam. Seragam dinas belum dikenakan. Yang ada hanya kaus lusuh, sandal jepit, dan suara bebek yang gelisah menunggu makan pagi.Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya menguap. Di sela sunyi itu, Saifuddin bekerja dalam diam, seolah berpacu dengan waktu.

Sebentar lagi, ia harus berangkat menjalankan tugas sebagai KAUR MIN di Satlantas Polres Pidie. Namun sebelum itu, kandang harus beres. Air minum bebek harus bersih dan penuh. Pakan harus cukup. Sebab bebek tak mengenal alasan, apalagi jadwal dinas.

Di sinilah drama keseharian itu bermula.
Saifuddin bukan aparat yang hidup di dua dunia terpisah. Seragam dan kandang justru berjalan beriringan. Usaha ternak ini tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kelelahan yang diterima sebagai konsekuensi.

Tahun 2023, Saifuddin memulai dengan beternak bebek pedaging. Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada ternak yang mati, ada kerugian, ada hari-hari ketika hasil tidak sebanding dengan tenaga. Namun ia memilih bertahan. Ia paham, kemandirian dan konsistensi memang tidak pernah datang lewat jalan lurus.

Tahun 2024, ia berbelok ke bebek petelur. Keputusan yang diambil tanpa rapat, tanpa kajian akademik. Hanya hitungan sederhana dan keyakinan bahwa pasar telur tidak pernah tidur. Sejak itu, hari-harinya berubah. Bangun lebih pagi. Pulang lebih lelah. Namun justru lebih tenang.

Bebek petelur di kandang sederhana milik Aipda Saifuddin, S.H., Bintara Polres Pidie, menjadi sumber kemandirian ekonomi dari halaman rumah, Senin (26/1). Waspada.id/Muhammad Riza

Kini, sekitar 300 ekor bebek hidup di kandang sederhana yang tak jauh dari rumahnya. Setiap dua hari, sekitar 300 butir telur dipungut satu per satu. Bukan dengan mesin. Bukan dengan pekerja. Tangannya sendiri yang menghitung. Dalam sehari, produksi mencapai 6 hingga 7 papan telur.

Telur-telur itu jarang sempat lama tersimpan. Permintaan selalu datang lebih cepat dari produksi. “Pernah satu waktu, habis pulang dinas capek, masih harus angkut telur. Badan rasanya mau roboh. Tetapi kalau ditinggal, besok bisa berantakan,” ujarnya pelan.

Awalnya, Saifuddin mencoba menjual telur lewat media sosial. Satu unggahan berubah menjadi banyak pesan. Telepon masuk bertubi-tubi. Ia kewalahan. “Sekarang saya enggak berani pasang status lagi. Telur belum sanggup mengejar permintaan,” katanya.

Dengan harga Rp2.500 per butir, pembeli datang dari berbagai kalangan ibu rumah tangga, pedagang kue, hingga pelaku UMKM. Mereka datang langsung ke kandang. Tidak jarang, Saifuddin masih berseragam dinas saat melayani pembeli, menukar topi polisi dengan topi peternak dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di titik itulah ketegangan terasa nyata. Di satu sisi, tugas negara menuntut fokus dan disiplin. Di sisi lain, kandang menuntut kehadiran dan ketelatenan. Saifuddin memilih tidak mengorbankan salah satunya. Ia membagi waktu dengan tegas, meski tubuh sering kali harus membayar mahal.

Namun dari kelelahan itu, lahir satu hal penting: kemandirian ekonomi. Bagi Saifuddin, ini bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan cara menjaga jarak dari tekanan hidup. Cara menjaga ketenangan batin saat mengenakan seragam.

Aparat yang tidak terjepit kebutuhan, lebih mudah berdiri tegak.Usahanya pun menular. Anak-anak muda mulai datang ke kandang bertanya, mengamati, dan mencoba. Mereka melihat langsung bahwa usaha tidak selalu glamor. Ada bau kandang, ada tangan kotor, ada bangun subuh, ada lelah yang tak pernah difoto.

“Kalau mentalnya enggak kuat, jangan mulai,” kata Saifuddin suatu sore, sambil memungut telur terakhir hari itu.

Menjelang senja, ketika kandang kembali sunyi dan bebek-bebek berdiam, Saifuddin duduk sejenak. Esok hari, rutinitas akan kembali berulang. Tidak ada jeda panjang. Tidak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah maknanya.

Dari Seupeng Ulee Cot, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, sebuah pelajaran lahir dengan cara sederhana namun tegas: kemandirian bukan soal pilihan yang nyaman, melainkan kesanggupan menanggung lelah tanpa mengeluh.

Dan bagi Aipda Saifuddin, drama keseharian itu adalah harga yang dengan sadar ia bayar demi hidup yang lebih merdeka.

Muhammad Riza/WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE