Aceh

Produksi Padi Abdya Sentuh 9 Ton/Ha Perkuat Pilar Ketahanan Pangan Nasional

Produksi Padi Abdya Sentuh 9 Ton/Ha Perkuat Pilar Ketahanan Pangan Nasional
Kadis Pertanian Abdya Hendri Yadi STP., Kamis (5/3).Waspada.id/Syafrizal 
Kecil Besar
14px

BLANGPIDIE (Waspada.id): Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu sentra produksi pangan di Provinsi Aceh. 

Hal itu dibuktikan dengan perolehan hasil ubinan pada panen musim tanam (MT) 2025/2026, yang mencatat produktivitas padi yang cukup tinggi, bahkan menyentuh angka 9 ton perhektare. Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bagi penguatan sektor pertanian daerah, sekaligus kontribusi nyata terhadap agenda ketahanan pangan nasional.

Panen musim rendengan di Abdya mulai berlangsung sejak Januari 2026 dan hingga kini masih berjalan secara bertahap, di sejumlah kecamatan. 

Berdasarkan hasil pengukuran melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA), yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Abdya, bersama Dinas Pertanian serta penyuluh pertanian lapangan, produktivitas padi berada pada kisaran 7 hingga 9 ton perhektare.

Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi STP mengatakan, hasil ubinan tersebut menjadi indikator menggembirakan bagi sektor pertanian di daerah itu. Menurutnya, capaian produktivitas tersebut, mencerminkan kemampuan petani dalam menjaga kinerja produksi, di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, termasuk perubahan iklim dan dinamika harga komoditas.

“Dari hasil ubinan yang dilakukan bersama BPS dan penyuluh, produktivitas padi di Abdya berada pada kisaran 7 hingga 9 ton per hektare (Ha). Ini merupakan capaian yang sangat baik dan memberikan optimisme bagi keberlanjutan sektor pertanian di daerah,” ungkap Hendri Yadi Kamis (5/3).

Selain produktivitas yang tinggi, harga gabah di tingkat petani juga menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan menguntungkan. Saat ini harga Gabah Kering Panen (GKP) di Abdya berkisar antara Rp6.800 hingga Rp7.000 perkilogram. Angka tersebut masih berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 perkilogram.

Kondisi ini dinilai memberi ruang yang lebih baik bagi petani, untuk memperoleh nilai ekonomi dari hasil panennya, sekaligus menjadi indikator bahwa rantai produksi dan distribusi gabah di daerah, masih berjalan cukup sehat. “Dengan harga gabah yang masih berada di atas HPP, tentu ini sangat membantu petani. Kami berharap stabilitas harga ini dapat terus terjaga, sehingga memberikan kepastian usaha bagi petani,” kata Hendri.

Ia menambahkan, capaian produktivitas yang tinggi tersebut, juga mempertegas posisi Abdya sebagai salah satu lumbung pangan penting di Aceh. Tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat lokal, produksi padi dari wilayah ini juga menjadi penyangga pasokan pangan bagi kawasan pantai barat selatan Aceh.

Dalam perspektif yang lebih luas, keberhasilan menjaga produktivitas pertanian daerah dinilai menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam mendukung strategi nasional menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan.

Panen rendengan di Abdya diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, seiring perbedaan waktu tanam di masing-masing wilayah. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian, terus melakukan pemantauan di lapangan guna memastikan produktivitas panen tetap optimal, serta stabilitas harga gabah di tingkat petani tetap terjaga.

Di tengah tantangan sektor pangan global, capaian produktivitas padi Abdya, menjadi penanda bahwa daerah tetap memiliki kapasitas kuat, dalam menjaga produksi pangan. Dengan kinerja sektor pertanian yang stabil, Abdya dinilai berpotensi terus memainkan peran penting dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan, baik di tingkat regional maupun nasional.(id82)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE