AcehPendidikan

Program Mahasiswa Berdampak 2026: Tim HIMFISA Universitas Samudra Terapkan Inovasi Sistem Filtrasi Hybrid Berbasis Gravitasi Di Tamiang

Program Mahasiswa Berdampak 2026: Tim HIMFISA Universitas Samudra Terapkan Inovasi Sistem Filtrasi Hybrid Berbasis Gravitasi Di Tamiang
Tim HIMFISA Universitas Samudra melaksanakan saat melaksanakan Inovasi Sistem Filtrasi Hybrid Berbasis Gravitasi untuk pemulihan air bersih pascabanjir di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (04/03/2026). Waspada.id/ist
Kecil Besar
14px

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Tim Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMFISA) Universitas Samudra melaksanakan Inovasi Sistem Filtrasi Hybrid Berbasis Gravitasi untuk pemulihan air bersih pascabanjir di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Ketua Tim Pelaksana, Nirmala Sari kepada wartawan, Rabu (04/03/2026) mengatakan, kegiatan ini dalam rangka pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun 2026, dimana mahasiswa dan dosen pembimbing dari Universitas Samudra melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat difokuskan pada pemulihan layanan kesehatan dasar, air bersih, dan sanitasi bagi masyarakat terdampak bencana banjir di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Kegiatan ini, lanjutnya, merupakan bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan pascabencana melalui integrasi pendidikan, riset terapan, dan pengabdian kepada masyarakat. Intervensi dilakukan secara terpadu dengan memadukan inovasi teknologi tepat guna dan penguatan kapasitas sosial kemasyarakatan di tingkat desa.

“Tim pelaksana menerapkan Sistem Filtrasi Hybrid (Bio–Adsorption Gravity Filter) berprinsip gravitasi tanpa penggunaan energi listrik,” jelasnya.

Selain itu, teknologi ini memanfaatkan kombinasi media filtrasi berupa batu koral, ijuk, pasir silika, arang aktif, dan zeolit yang bekerja secara mekanik–fisik–kimia untuk menurunkan kekeruhan, mengurangi bau dan warna, serta meningkatkan kualitas air untuk kebutuhan sanitasi dan air bersih non-konsumsi. Sistem dirancang sederhana, adaptif terhadap kondisi lapangan, serta mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat.

Diutarakan Nirmala Sari lagi, bahwa program ini dirancang sebagai solusi berbasis kebutuhan riil masyarakat terdampak.

“Pendekatan yang kami gunakan tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi filtrasi air, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola sarana tersebut secara mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan ini menekankan integrasi aspek teknis, kesehatan masyarakat, dan penguatan manajemen desa,” ujarnya.

Selain instalasi unit filtrasi air, kegiatan juga mencakup edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pendampingan kelompok rentan, penguatan tata kelola Posyandu, serta pelatihan pengelolaan sarana air bersih dan sanitasi bagi kelompok pemuda desa. Mahasiswa terlibat aktif dalam proses survei baseline–endline, analisis kebutuhan, implementasi teknis, hingga evaluasi dampak program.

Kepala Desa Sriwijaya, Ismail Lubis menyampaikan apresiasi atas kontribusi tim pelaksana. Ia menegaskan bahwa program ini memberikan dampak langsung terhadap kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana.

“Kehadiran mahasiswa dan dosen memberikan solusi konkret bagi warga kami, khususnya dalam penyediaan air bersih dan penguatan layanan kesehatan desa,” ujarnya.

Sementara Ketua Kelompok Posyandu, Meliza Sabrina menyampaikan, banjir yang terjadi sebelumnya menyebabkan seluruh peralatan kesehatan (alkes) Posyandu rusak karena terendam air, sehingga pelayanan kepada balita dan ibu hamil sempat terhenti.

Ia mengapresiasi dukungan Tim HIMFISA yang tidak hanya melakukan pendampingan teknis dan manajerial, tetapi juga memberikan bantuan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung operasional kembali Posyandu.

“Seluruh alat kesehatan kami rusak akibat terendam banjir, sehingga kegiatan pelayanan tidak dapat berjalan optimal. Bantuan alat kesehatan dari tim sangat membantu kami dalam mengaktifkan kembali layanan Posyandu, sekaligus meningkatkan semangat kader untuk kembali melayani masyarakat,” ungkapnya.

Perwakilan Kelompok Pemuda Desa Sriwijaya, M. Yusuf juga menyampaikan bahwa keterlibatan pemuda dalam pengelolaan sistem filtrasi air memperkuat rasa tanggung jawab dan keberlanjutan program di tingkat desa.

Program ini mendukung agenda prioritas pembangunan nasional, khususnya penguatan ketahanan masyarakat dan swasembada air melalui penerapan teknologi tepat guna.

Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta Kota dan Permukiman Berkelanjutan.

“Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Program Mahasiswa Berdampak ini diharapkan menjadi model praktik baik pemberdayaan berbasis inovasi yang adaptif dan dapat direplikasi di wilayah terdampak bencana lainnya,” imbuhnya. (Id74)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE