ACEH TIMUR (Waspada.id): Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Berdampak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026 yang dilaksanakan oleh tim PKM Universitas Samudra melakukan upaya pemulihan pendidikan bagi anak-anak korban banjir bandang di Desa Lokop, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Ranu (11/03/2026).
Kegiatan pengabdian ini dikoordinasikan langsung Dr. Drs. Imam Hadi Sutrisno sebagai dosen koordinator lapangan bersama Dr. Hartutik, S.Pd., M.Pd. sebagai anggota tim pelaksana.
Menurut Dr. Drs. Imam Hadi Sutrisno, program tersebut juga melibatkan mahasiswa Universitas Samudra yang secara langsung memberikan pendampingan pendidikan dan aktivitas pembelajaran kepada anak-anak di lokasi terdampak yang berlangsung sejak awal Februari hingga awal Maret 2026 dan menyasar sekitar 50 hingga 100 siswa sekolah dasar yang terdampak bencana banjir bandang di wilayah pedalaman Aceh Timur.
“Kegiatan ini diwujudkan melalui penyelenggaraan sekolah darurat ramah anak yang dipadukan dengan pendampingan psikososial guna membantu anak-anak kembali mengikuti proses belajar secara aman dan nyaman melalui pembiayaan dari Kemendiktisaintek tahun 20026,” sebutnya.
Melalui program yang diberi nama ANARTA (Anak Nusantara Tangguh), sambungnya, para siswa dapat kembali mengikuti kegiatan belajar di ruang belajar sementara yang dibangun sebagai sekolah darurat.

“Fasilitas pembelajaran tersebut dilengkapi dengan bahan ajar portabel, alat permainan edukatif, serta modul pendidikan kebencanaan yang dirancang khusus untuk kondisi pembelajaran dalam situasi darurat,” urainya lagi.
Dijelaskan Dr. Drs. Imam Hadi Sutrisno, bahwa program ini tidak hanya bertujuan memulihkan kegiatan pendidikan yang sempat terhenti akibat bencana, tetapi juga membantu anak-anak mengatasi dampak psikologis yang muncul setelah peristiwa banjir bandang.
“Anak-anak yang mengalami bencana sering kali merasakan trauma, ketakutan, dan kecemasan. Oleh karena itu, selain pembelajaran akademik, kami juga memberikan pendampingan psikososial agar mereka dapat kembali percaya diri dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar,” ujarnya.
Pendampingan psikososial tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif seperti kegiatan bercerita, permainan terapeutik, aktivitas seni, serta pembelajaran kreatif yang mendorong anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka secara positif.
“Pendekatan ini dinilai penting untuk membantu memulihkan kondisi emosional anak-anak setelah mengalami pengalaman traumatis akibat bencana.
Dalam pelaksanaan program ini, tim pengabdian juga bekerja sama dengan pemerintah desa setempat,” ungkapnya lagi.
Sementara Reje (Kepala Desa) Lokop, Eje, ST dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas kepedulian Universitas Samudra yang telah membantu memulihkan kegiatan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Menurutnya, keberadaan sekolah darurat tersebut sangat membantu masyarakat karena sebagian fasilitas pendidikan di desa mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda kawasan hulu Aceh Timur beberapa waktu lalu.
Selain kegiatan belajar mengajar, metode pembelajaran yang diterapkan dalam program ini dirancang secara interaktif dan menyenangkan, sehingga anak-anak dapat kembali merasakan suasana belajar yang aman tanpa tekanan. Lingkungan belajar yang ramah anak juga diharapkan mampu membangun kembali motivasi belajar serta memperkuat ketahanan mental anak-anak.
“Program pengabdian mahasiswa ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan proses pendidikan bagi anak-anak di daerah terdampak bencana agar mereka tidak mengalami kehilangan kesempatan belajar dalam jangka waktu yang lama,” sebutnya.
Diungkapkannya, masyarakat Desa Lokop menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap program serupa dapat terus dilakukan hingga kondisi pendidikan di wilayah tersebut benar-benar pulih.
Ditambahkan Dr. Drs. Imam Hadi Sutrisno, melalui program PKM Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek 2026, Universitas Samudra berupaya menghadirkan kontribusi nyata dalam mendukung pemulihan pendidikan di daerah terdampak bencana.
“Program ini diharapkan tidak hanya membantu anak-anak melanjutkan pendidikan mereka, tetapi juga membentuk generasi muda yang tangguh, adaptif, dan mampu bangkit dari pengalaman bencana untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” imbuhnya. (Id74)













