BANDA ACEH (Waspada.id): Puluhan Gajah Sumatera dilaporkan kembali memasuki kawasan permukiman warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Hingga Jumat (27/3/2026), kawanan satwa dilindungi tersebut masih berada di sekitar wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Masyarakat Peduli Gajah (MPG), jumlah gajah liar yang terpantau mencapai sekitar 28 ekor. Kawanan ini terbagi dalam dua kelompok dan terus beraktivitas di sekitar kecamatan Pintu Rime Gayo sejak awal Ramadhan.
Ketua Tim Pengusiran MPG, Usop, menjelaskan bahwa gajah-gajah tersebut tidak hanya memasuki permukiman pada siang hari, tetapi juga kerap muncul pada malam hari. Setiap kali mendapat laporan dari warga, tim MPG langsung turun ke lapangan untuk menggiring kawanan gajah kembali ke habitatnya.
“Setiap kejadian, kami berupaya menggiring gajah ke seberang sungai menuju kawasan hutan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari permukiman,” ujar Usop.
Dalam penanganannya, MPG bekerja sama dengan WWF Indonesia dengan melakukan patroli selama 24 jam di sejumlah titik rawan. Tim juga bergerak cepat setiap menerima laporan warga terkait kemunculan gajah.
Namun, upaya tersebut tidak berjalan mudah. Kondisi medan yang berat, seperti perbukitan terjal dan jalur berbatu, menjadi kendala utama dalam proses penggiringan. Bahkan, tim membutuhkan alat berat untuk membuka akses jalur agar gajah dapat diarahkan kembali ke hutan.
Usop mengakui, pihaknya kewalahan karena meskipun sudah beberapa kali digiring, kawanan gajah tersebut kembali lagi ke permukiman warga.
Dalam sepekan terakhir, warga semakin resah setelah seekor gajah jantan berukuran besar kerap masuk ke desa pada malam hari. Gajah yang dijuluki “Bancol” itu disebut bergerak sendirian dan berperilaku agresif, berbeda dari kelompoknya.
“Gajah jantan ini sering masuk sendiri ke kampung, terpisah dari rombongan, dan cenderung ganas,” ungkapnya.
Sebelumnya, pada 21 Februari 2026, seorang petani dilaporkan tewas akibat terinjak gajah di Kampung Pantan Lah, wilayah yang sama. Pihak BKSDA Aceh menyebutkan, konflik antara manusia dan gajah dipicu oleh kerusakan fasilitas pagar listrik (power fencing) serta perubahan jalur jelajah gajah akibat bencana hidrometeorologi.
Petugas mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan keberadaan gajah kepada pihak berwenang dan tidak melakukan upaya pengusiran secara mandiri karena berisiko tinggi. (Hulwa)













