PIDIE (Waspada.id): Jeritan petani di Kabupaten Pidie kian menguat seiring langkanya pupuk subsidi di tengah musim tanam. Di saat sawah telah siap ditanami, pupuk justru sulit diperoleh, membuat petani berada dalam ketidakpastian.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi II DPRK Pidie dari Partai Aceh, Sulaiman alias Pak Salam. Ia menilai petani Pidie menjadi pihak paling dirugikan akibat tidak beresnya tata kelola pupuk di lapangan.
“Petani jangan terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Mereka sudah siap tanam, tetapi pupuk tidak tersedia. Ini sangat menyulitkan,” ujar Sulaiman, Selasa (20/1).
Menurutnya, persoalan pupuk tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah rutin tahunan. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa berujung pada gagal tanam dan penurunan produksi pangan daerah.
Sulaiman mendesak Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie agar segera turun tangan secara serius, sekaligus membuka secara transparan di mana titik persoalan sebenarnya terjadi.
“Harus dicari di mana kendalanya. Apakah di data RDKK, kuota, atau distribusi. Petani butuh kepastian, bukan sekadar penjelasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kelangkaan pupuk menyangkut langsung hajat hidup petani Pidie, sehingga perlu melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pihak produsen pupuk. Selain itu, Sulaiman juga meminta PT Pupuk Indonesia segera membentuk tim khusus agar distribusi pupuk subsidi ke Pidie dapat dipercepat.
“Kami berharap Pupuk Indonesia segera membentuk tim supaya pupuk cepat sampai ke petani,” katanya.
Sulaiman memastikan DPRK Pidie akan terus melakukan pengawasan dan mendorong langkah konkret agar persoalan pupuk tidak lagi menjadi beban berulang bagi petani setiap musim tanam. “Kalau petani terus menjerit dan tidak ada solusi, maka yang dipertaruhkan adalah ketahanan pangan Pidie,” pungkasnya. (id69)










