Di balik dinamika tugas kepolisian yang sarat tantangan, Kabupaten Pidie hari ini memiliki sosok pemimpin yang tidak sekadar menjalankan fungsi struktural, tetapi juga menghadirkan sentuhan kemanusiaan. Dialah Kapolres Pidie, Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K.
Di bawah kepemimpinannya, Polres Pidie tidak hanya berbicara soal penegakan hukum, tetapi juga membangun pendekatan persuasif dan kedekatan emosional dengan masyarakat. Momentum pembagian takjil Ramadan di depan Mapolres Pidie menjadi salah satu cermin nyata gaya kepemimpinan tersebut.
AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K. bukan tipe pemimpin yang menjaga jarak. Ia turun langsung ke jalan, menyapa warga, menyerahkan takjil dengan tangan sendiri, dan berdialog singkat dengan pengendara. Dalam konteks kepemimpinan publik, kehadiran langsung seperti itu bukan hal sepele. Itu adalah pesan kuat bahwa pemimpin sejati hadir, bukan hanya memberi perintah.
Ramadan 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi bahwa jabatan adalah amanah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58).
Ayat ini menegaskan bahwa integritas adalah fondasi kepemimpinan. Apa yang dilakukan Kapolres Pidie menjadi wujud nyata menjaga amanah melalui tindakan, bukan sekadar kata.Rasulullah SAW pun bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR. Abu Nu’aim).
Nilai pelayanan itu tercermin dalam langkah-langkah AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K. Ia tetap tegas dalam menjaga keamanan dan ketertiban, namun santun dalam pendekatan. Ia mengingatkan disiplin berlalu lintas, tetapi dengan bahasa yang persuasif. Ia memimpin dengan aturan, sekaligus dengan rasa.
Di tengah ekspektasi publik yang tinggi terhadap institusi kepolisian, kehadiran figur seperti Kapolres Pidie menjadi energi positif. Kepemimpinan yang komunikatif, terbuka, dan membumi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Tantangan tentu tidak ringan. Stabilitas keamanan, dinamika sosial, hingga perubahan zaman menuntut konsistensi dan keteguhan. Namun fondasi sudah ditanam, kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan bekerja dengan hati.
Dari Sigli, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, pesan itu kian terasa, kepemimpinan bukan hanya soal pangkat dan jabatan, tetapi tentang pijakan hati dan keberanian hadir di tengah rakyat. Di tangan AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K., seragam bukan sekadar simbol kewenangan, melainkan lambang pengabdian.
Ramadan mungkin akan berlalu, tetapi jejak ketulusan tidak mudah pudar. Ketika pemimpin memilih turun, menyapa, dan berbagi, di situlah kepercayaan tumbuh dan harapan menguat. Pidie tidak hanya melihat seorang Kapolres yang bekerja, tetapi sosok yang mengayomi, tidak hanya perwira yang memimpin, tetapi pribadi yang melayani.
Selama langkah itu dijaga, tegas dalam aturan, teduh dalam pendekatan keamanan akan kokoh, kepercayaan akan tumbuh, dan kebersamaan akan terus terajut. Ramadhan penuh rasa, kepemimpinan penuh makna.
Muhammad Riza











