BLANGPIDIE (Waspada.id): Sebuah peristiwa sederhana di waktu sahur, yang semula hanya menjadi bagian dari agenda Safari Ramadan, justru menjelma menjadi pengingat tentang wajah lain kehidupan di pelosok daerah. Dari momen itulah, langkah konkret lahir.
Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, Rabu (11/3) lalu, meninjau langsung pembangunan rumah layak huni bagi keluarga dhuafa milik Amran, di Desa Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan.
Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi sehari sebelumnya, sebuah kisah yang sempat diangkat Waspada.id dalam feature bertajuk “Ketika Sahur Menyingkap Realitas Sunyi di Bawah Langit Abdya”.

Dalam suasana dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, Safaruddin mendatangi rumah Amran, untuk sahur bersama keluarga tersebut. Di balik keheningan Ramadan, pertemuan itu membuka realitas yang selama ini tersembunyi: sebuah rumah sederhana berdinding pelepah rumbia dengan lantai tanah, yang jauh dari kelayakan hunian.
Di rumah itulah Amran menjalani hari-harinya bersama istri, dua anak yang masih bersekolah, serta seorang anak piatu yang ikut mereka asuh. Dengan keterbatasan ekonomi, keluarga itu bertahan dalam kesederhanaan yang nyaris tak tersentuh perhatian publik.
Pemandangan itu membuat Safaruddin tersentuh. Usai sahur dan salat Subuh berjamaah, ia menyampaikan komitmennya kepada masyarakat, saat memberikan tausiyah Subuh di Masjid Baitul Quddus, Desa Pinang, Kecamatan Susoh.
“Insya Allah besok rumah itu kita bangun. Sebelum takbir Idul Fitri berkumandang, rumah tersebut sudah selesai,” ujar Safaruddin saat itu.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Sehari berselang, pembangunan rumah baru untuk keluarga Amran langsung dimulai, bupati turun meninjau progres pekerjaan di lokasi.

Momen sahur itu sendiri meninggalkan kesan mendalam. Meski membawa makanan dari Pendopo Bupati untuk dinikmati bersama keluarga Amran, Safaruddin justru memilih menyantap hidangan sederhana yang telah disiapkan tuan rumah.
Baginya, tindakan tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap keluarga yang ia kunjungi, sekaligus simbol kebersamaan yang tidak dibatasi oleh status sosial.
Safaruddin menegaskan, pengalaman tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah, bahwa di tengah berbagai indikator pembangunan, masih ada warga yang hidup dalam kondisi rumah yang tidak layak. “Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat hidup dengan martabat. Rumah layak huni adalah bagian dari itu,” katanya.
Di tengah narasi pembangunan nasional yang sering diukur melalui statistik dan angka pertumbuhan, kisah kecil dari Padang Kawa ini menunjukkan dimensi lain dari kepemimpinan: ketika empati bertemu tindakan.
Dan dari sebuah sahur yang sunyi di bawah langit Abdya, sebuah rumah baru kini sedang dibangun, sebagai penanda bahwa kepedulian, jika sungguh-sungguh, selalu menemukan jalannya menjadi kenyataan.(id82)











