Santri Dayah Tarbiyah Islamiah Peringati Hari Wafat Ke-1241 Imam Syafi’i

  • Bagikan
Pimpinan Dayah Tarbiyah Islamiah Kandang Lhokseumawe, Tengku Ahmad Banda Dua menjelaskan peran ulama dan umara dalam memperbaiki moral generasi bangsa. Waspada/Maimun Asnawi
Pimpinan Dayah Tarbiyah Islamiah Kandang Lhokseumawe, Tengku Ahmad Banda Dua menjelaskan peran ulama dan umara dalam memperbaiki moral generasi bangsa. Waspada/Maimun Asnawi

LHOKSEUMAWE (Waspada): Santri Dayah Tarbiyah Islamiah Kota Lhokseumawe, Senin (5/2) pagi melaksanakan kegiatan peringatan hari wafatnya yang ke-1241 Imam Syafi’i sekaligus memperingati haul ke-11 Dayah Tarbiayah Islamiah. Peringatan hari wafatnya Imam Syafi’i diperingati setiap tahun di bulan Rajab.

Pimpinan Dayah Tarbiyah Islamiah Mashab Syafi’i, Ahmad Banda Dua saat dikonfirmasi Waspada, Senin (5/2) siang mengatakan, Sabtu (3/2) siang, para santri dan masyarakat telah melaksanakan pawai dari Dayah Tarbiyah Islamiah di Kandang menuju Makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Pawai ke makam pendiri kerajaan islam pertama di nusantara itu dilakukan untuk berwasilah dengan cara berdoa kepada Allah Swt agar diberikan berbagai kemudahan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dayah tersebut dalam rangka mendidik generasi islam di Aceh yang kondisinya saat ini sedang dilanda krisis moral dan akhlak.

“Semoga peringatan hari wafatnya Imam Syafi’i yang kita laksanakan hari ini berjalan sukses dan lancar. Hari ini juga kita memperingati haul Dayah Tarbiyah Islamiah ke-11,” ucap Ahmad Banda Dua, seraya menambahkan, peringatan hari wafatnya Imam Syafi’i mulai di peringati di Indonesia sejak tahun 1988 di Jakarta.

Dengan dilaksanakannya peringatan wafatnya Imam Syafi’i pada setiap tahun di bulan Rajab, melalui pertolongan Allah Swt, Dayah Tarbiah Islamiah mampu mengubah krisis moral yang sedang melanda rakyat dari kotor menjadi bersih.

Akhir-akhir ini, kata Ahmad Banda Dua, banyak hal negatif yang terjadi di kalangan masyarakat terutama di kalangan pemuda dan remaja. Ada diantara mereka yang kecanduan narkoba apakah itu ganja ataupun sabu-sabu dan bahkan ada yang mabuk lem. “Macam-macam hal negatif terjadi di kalangan masyarakat kita. Mudah-mudahan kehadiran kami di tengah masyarakat mampu menjadi lampu penerang untuk mengubah perilaku buruk menjadi baik,” harapnya.

Santri Dayah Tarbiyah Islamiah Peringati Hari Wafat Ke-1241 Imam Syafi’i

Krisis Moral Karena Kurang Ilmu

Ahmad Banda Dua kepada Waspada memberitahukan, krisis moral dan akhlak yang melanda generasi muda disebabkan kurang pemahaman ilmu agama. Jika mereka sudah dibekali dengan ilmu agama islam, maka tidak mungkin para pemuda dan remaja memiliki akhlak yang buruk.

“Tidak ada khak buruk pada santri-santri yang modok dipesantren. Kenapa demikian, karena mereka setiap hari dibekali dengan ilmu agama yang baik. Kalau ahli negara baik, maka negara ikut menjadi baik, kenapa negara kita kurang baik, karena ahli negaranya kurang baik,” sebutnya.

Pemerintah Masih Kurang Peduli

Menjawab Waspada, Ahmad Banda Dua mengatakan, keterlibatan pemerintah dalam memberikan pendidikan agama kepada rakyat selama ini masih kurang. Sebagai pemerintah, semestinya merekan memberikan perhatian 100 persen kepada rakyat untuk memberikan pendidikan agama, agar akhlak dan moral masyarakat berubah menjadi baik. Tentunya, pemberian pendidikan agama dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan para alim ulama di daerah masing-masing.

“Pemerintah dengan ulama ibarat harus seiring bahu seayun langkah dalam memberikan pendidikan kepada rakyat. Selama ini mereka peduli tetapi masih sangat kurang. Hendaknya dapat diberikan perhatian 100 persen,” sebutnya.

Untuk mengubah akhlak dan moral masyarakat, Dayah Tarbiah islamiah mencoba untuk terus bergerak perlahan-lahan dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk memberikan pendidikan agama kepada masyarakat dengan membuka jam belajar untuk masyarakat baik untuk kaum ayah maupun kaum ibu dan bahkan untuk anak-anak.

“Di dayah ini kita mengajari seluruh litab kuning kepada seluruh santri dan begitu juga pada pengajian rakyat dari kalangan para ayah dan ibu. Bahkan kita juga menampung dan memberikan pendidikan (rehabilitas) kepada anak-anak yang luput perhatian keluarga dan pemerintah. Mereka kita terima dan kita berikan pendidikan gratis,” katanya.

Terakhir saat diwawancarai Waspada, Ahmad Banda Dua mengaharapkan pemerintah ikut andil dalam mengembangkan pendidikan agama dengan cara memberikan berbagai kemudahan baik dari sisi sarana dan prasarana termasuk menyediakan biaya pendidikan agama. Sehingga ke depan dengan cara perlan-pelan mampu memperbaiki krisis moral yang melanda generasi muda selama ini. (b07).

  • Bagikan