ACEH TAMIANG (Waspada.id) : Di tengah keterbatasan hidup di posko pengungsian akibat banjir besar, anak-anak korban bencana di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, masih menyimpan harapan sederhana: kehidupan yang kembali normal seperti sedia kala.
Harapan itu terungkap saat relawan asal Kota Medan menggelar aksi kemanusiaan dengan membagikan makanan, mainan, serta perlengkapan sekolah kepada anak-anak korban banjir besar di posko pengungsian Sumur Cincin, Kampung Durian dan posko pengungsian Kota Lintang bawah, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Minggu (18/1).
Michaell, salah seorang relawan yang turut menginisiasi kegiatan mengatakan, selain menyalurkan bantuan logistik, para relawan juga memfokuskan kegiatan pada pemulihan trauma (trauma healing) anak-anak yang terdampak banjir.
“Kami membawa bantuan dari Medan, di antaranya burger dari Burganik, susu, telur rebus, pakaian, tas, serta mainan untuk anak-anak,” sebut Michaell.

Berbagai permainan edukatif digelar untuk menghibur anak-anak, disertai pembagian tas sekolah dan buku tulis guna membangkitkan kembali semangat belajar mereka.
“Fokus kegiatan kali ini memang ditujukan kepada anak-anak. Karena setelah musibah banjir di sini, mereka sangat membutuhkan hiburan, jadi kami memberikan hadiah berupa mainan, alat tulis, dan tas. Harapannya, hal ini bisa menumbuhkan kembali semangat dan memberikan harapan agar mereka lebih kuat lagi,” ujar Michaell.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Zhang Mei-mei, pendongeng cilik yang usianya tak jauh berbeda dengan anak-anak pengungsi. Ia membawakan dongeng sederhana dan interaktif yang disambut antusias, menciptakan suasana ceria di tengah keterbatasan posko pengungsian.
“Mei-mei melihat kondisi mereka saat banjir, sebagian ada yang terpisah dari mamanya, kasihan. Hati Mei-mei tergugah untuk berbagi dan menceritakan dongeng, karena itu yang Mei-mei bisa,” ungkapnya.

Kehadiran Mei-mei berhasil mencairkan suasana dan menghadirkan tawa di tengah kondisi darurat.
Sepucuk Harapan Untuk Presiden
Tak hanya hiburan, relawan juga mengajak anak-anak menuliskan harapan mereka untuk masa depan. Anak-anak menuliskan keinginan mereka di atas selembar kertas untuk kemudian dikirimkan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Sebagian besar harapan yang dituliskan mencerminkan kerinduan anak-anak terhadap rutinitas yang hilang akibat banjir. Mereka ingin kembali bersekolah, bermain, dan tinggal di rumah yang aman.
Harapan polos namun menyentuh disampaikan Aulia Pertiwi, 13. Siswi kelas VII itu berharap situasi kembali normal agar ibunya dapat kembali berjualan demi menyambung kehidupan.

“Ingin semuanya membaik, kota dan sekolah saya juga pulih seperti sebelumnya, supaya ibu bisa berdagang lagi,” ujarnya yang merindukan pulihnya kota dan sekolah tempatnya menimba ilmu.
“Halo Pak Presiden, kami mau punya lapangan bola,” tulis Rafa, polos, mewakili keinginan sederhana untuk kembali bermain bersama teman-temannya.
Aisyah Umaira juga mengungkapkan kerinduan akan kehidupan normal yang selama ini terhenti. “Bisa sekolah lagi, dan bisa tidur enak lagi, juga semoga bisa dapat baju untuk Lebaran,” tulisnya.
Sementara itu, Vahesh Ahmad, 9, menuliskan harapan singkat namun penuh makna, “Harapanku mau rumah baru,” mencerminkan kebutuhan mendasar akan tempat tinggal yang layak pascabencana.
Relawan berharap, selembar harapan yang dikumpulkan dari anak-anak Aceh Tamiang ini dapat sampai ke Istana Presiden dan menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang mengembalikan rasa aman, masa depan, dan senyum anak-anak.

“Yang kita buat adalah harapan adik-adik di sini, pasti ada punya harapan ke depannya ya. Jadi harapan ini ditulis oleh mereka di selembar kertas dan semuanya akan kita kirim ke Istana Presiden di Jakarta. Dan sore hari ini kita langsung packing dan kirim dengan ekspedisi langsung dari Aceh Tamiang. Mudah-mudahan selembar harapan ini dapat atensi dari Presiden,” ucap Andrey, salah seorang relawan.
Harapan-harapan itu akan dikemas dan dikirimkan langsung dari Aceh Tamiang ke Istana Negara di Jakarta sebagai suara kecil anak-anak yang ingin kehidupan mereka kembali normal.(Id23)










