PULUHAN anak-anak duduk melingkar seperti angka nol di lantai surau (meunasah-Aceh) Gampong Teumpok Beurandang, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Formasi itu sengaja disusun, agar anak-anak dapat melihat dengan sempurna ke arah Jihan Fanyra, yang sedang memberikan arahan untuk memulai sebuah permainan.
Jihan merupakan salah seorang mahasiswi dari Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Kampus Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Di surau itu, Jihan tidak sendiri, tetapi ditemani, Fadhil Aulia Farisky, teman satu fakultasnya. Di surau itu juga, Fanyra mengajak anak-anak bermain edukatif.
Mulai dari permainan tepuk tangan dan teriakan-teriakan kecil penuh semangat mampu melahirkan senyuman kembali merekah dari wajah anak-anak penyintas banjir bandang ini. Suara ketawa memenuhi meunasah, seolah mereka telah berhasil melupakan bencana alam banjir yang baru saja meluluhlantakkan gampong halaman mereka.
Fanyra dan Fadhil Aulia Farisky terpukau dengan sambutan masyarakat dan antusiasme anak-anak penyintas banjir bandang itu dalam menyambut kedatangan mereka. Dua mahasiswa dari UIN SUNA ini datang ke gampong itu bersama dengan Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA) dalam rangka melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Kami sangat terkesan dengan antusiasme anak-anak dan masyarakat Gampong Teumpok Beurandang. Mereka tetap semangat. Padahal, gampong mereka baru saja dilanda banjir besar bercampur lumpur. Ke sana, kami bersama dengan PEKA Malaysia untuk melakukan trauma recovery, Jumat (31/1),” terang Fanira kepada Waspada.id, Senin (2/2) siang.
Kegiatan community service ini, sebut Fadhil Aulia Farisky, merupakan kolaborasi PEKA dengan FUAD, khususnya Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI), serta FTIK melalui Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI). Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) juga ikut mendampingi pelaksanaan kegiatan, terutama dalam membangun komunikasi dengan warga dan anak-anak di gampong tersebut.
Ke Teumpok Beurandang, UIN SUNA menghadirkan sejumlah mahasiswa calon konselor untuk terlibat langsung dalam proses pendampingan. “Dari sini, kami sebagai konselor akan dilatih untuk menjadi profesional kesehatan mental untuk membantu individu dalam memproses, memahami, dan mengatasi dampak psikologis serta fisik akibat peristiwa traumatis bencana alam. Kami para calon konselor profesional harus mampu mencipatkan ruang aman untuk menyembuhkan luka emosional dan berusaha membangun kembali kontrol hidup masyarakat dan anak-anak,” terang Fadhil Aulia Farisky.

Menjawab Waspada.id, Jihan Fanyra menjelaskan fokus utama kegiatan tersebut adalah berusaha melakukan pemulihan trauma pascabanjir bandang 2025, bagi para penyintas. Kegiatan pendampingan recovery trauma ini ikut dibantu oleh Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia.
“Kami sebagai para konselor dari UIN SUNA diarahkan untuk dapat berinteraksi sedekat mungkin dengan anak-anak melalui pendekatan ringan dan bersahabat,” katanya.
Wakil Rektor III UIN Sultanah Nahrasiyah, Dr. Darmadi, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian ini merupakan bentuk nyata kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. “Kerja sama dengan PEKA tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan langsung yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Kepada Waspada.id, Darmadi juga menjelaskan, hubungan internasional antara Aceh dan Malaysia sudah terjalin cukup lama; Malaysia merupakan sahabat Aceh sejak ratusan tahun lalu. “Karena itu tidak heran, Malaysia selalu hadir untuk membantu Aceh dalam berbagai peristiwa termasuk pada saat terjadi bencana alam banjir bandang 2025.
“Kita berharap dan berdoa agar masyarakat yang terdampak banjir ini segera pulih, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya, seraya menambahkan, UIN SUNA selalu siap membuka ruang pendidikan bagi masyarakat, termasuk membantu anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pada kesempatan itu, Dekan FUAD UIN Sultanah Nahrasiyah, Dr. Ruhama Wazna kepada Waspada.id mengatakan kegiatan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilihat dari aspek bantuan material, tetapi juga soal psikologis. Kegiatan pendampingan recovery trauma ini dinilai cukup penting bagi masyarakat khususnya untuk anak-anak.
“Ini bagian dari tanggung jawab akademik fakultas dalam merespon persoalan sosial di masyarakat,” kata Ruhama Wazna.
Menjawab pertanyaan Waspada.id, Presiden Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA), Datin, Dr. Siti Taniza Toha mengatakan, kolaborasi lintas negara seperti yang dilaksanakan pihaknya dengan UIN SUNA harus dilakukan secara berkelanjutan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
“Pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana. Melalui kolaborasi ini, kami berharap masyarakat dapat kembali bangkit dan menjalani aktivitas dengan lebih baik,” kata Datin Siti Taniza.
Kegiatan pendapingan recovery trauma yang dilaksanakan oleh UIN SUNA Lhokseumawe bekerjasama dengan PEKA Malaysia diapresiasi oleh Geusyiek (kepala desa) Gampong Teumpok Beuradang, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Zulfikar.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran bapak dan ibu dari PEKA serta UIN Sultanah Nahrasiyah. Anak-anak terlihat senang dan lebih ceria. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi penguat bagi kami untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Amatan Waspada.id di lokasi kegiatan, UIN SUNA dan PEKA Malaysia ke gampong itu bukan hanya memberikan bantuan pendampingan psikososial, namun juga ikut menyerahkan bantuan berupa kain sarung, mukena, dan Al-Quran untuk masyarakat setempat.
“Semoga bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat. Dan bantuan ini dapat membantu masyarakat Gampong Teumpok Beurandang dalam menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan nyaman,” kata Datin Siti Taniza yang diamini oleh Darmadi pada saat meyerahkan bantuan tersebut kepada Zulfikar.
Maimun Asnawi, S.Hi.,M.Kom.I












