BLANGPIDIE (Waspada.id): Upaya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi terus bergerak di tingkat daerah. Di Aceh Barat Daya (Abdya), kehadiran Satuan Pelaksanaan Pelayanan Gizi (SPPG) Alue Dama, Kecamatan Setia, menjadi bagian penting dari implementasi agenda nasional peningkatan gizi masyarakat, khususnya ibu dan anak.
Dalam sambutan Bupati Abdya Dr. Safaruddin, S.Sos, MSP yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Jufri, S.Ag., MM saat meresmikan SPPG Alue Dama, Sabtu (31/1) menegaskan, persoalan gizi bukan sekadar isu kesehatan, melainkan fondasi utama pembangunan jangka panjang. “Anak-anak dengan gizi baik, akan tumbuh menjadi generasi sehat, cerdas dan produktif. Sebaliknya, pengabaian terhadap gizi akan menjadi beban serius bagi pembangunan daerah di masa depan,” tegasnya.

SPPG Alue Dama dinilai tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas layanan, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pendampingan masyarakat, terkait pentingnya gizi seimbang. Model layanan ini sejalan dengan arah kebijakan nasional, yang menempatkan gizi sebagai instrumen strategis pencegahan stunting dan peningkatan kualitas SDM Indonesia.
Selain berdampak pada aspek kesehatan, keberadaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dikelola SPPG Alue Dama, juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian lokal.
Ketua Yayasan Saudagar Rakyat Aceh sekaligus pengelola SPPG Alue Dama, Muhammad Haris, melaporkan bahwa, saat ini layanan menjangkau 2.473 penerima manfaat, yang tersebar di 19 titik wilayah Blangpidie. “Dalam operasionalnya, dapur MBG ini juga menyerap 51 tenaga kerja lokal, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima layanan gizi, tetapi juga masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga profesionalitas dan keberlanjutan program, mengingat dapur MBG merupakan bagian dari program strategis nasional, yang menuntut standar layanan, akuntabilitas, serta dampak jangka panjang.

Pemkab Abdya menyatakan dukungan penuh, terhadap keberlanjutan SPPG Alue Dama dan mendorong kolaborasi lintas sektor, agar model layanan gizi berbasis komunitas ini, dapat direplikasi di wilayah lain.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat, SPPG Alue Dama diproyeksikan menjadi contoh konkret bagaimana agenda nasional perbaikan gizi, dapat dijalankan efektif dari tingkat daerah, sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi lokal.(id82)











