Suara azan mengalun dari kejauhan, memanggil jiwa-jiwa untuk bersujud. Di hamparan sawah Gampong Ujong Baroh, Kemukiman Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, panggilan itu melintasi pematang yang masih basah, menyusuri lumpur yang perlahan mengering, lalu berhenti di hati para petani yang sejak pagi bergelut dengan tanah.
Azan menjadi jeda. Cangkul diletakkan di tepi pematang, mesin dimatikan, motor diparkir seadanya. Tubuh-tubuh letih yang terbiasa membungkuk kini berdiri tegak, lalu perlahan bersiap tunduk. Di ruang terbuka tanpa dinding dan atap, mereka menggelar alas seadanya, menegakkan salat di tengah sawah yang baru kembali digarap pascabanjir hidrometeorologi 26 November 2026.
Pakaian kerja masih melekat, kaki masih berlumur lumpur. Tidak ada sajadah empuk, tidak ada saf yang rapi. Namun di hadapan hamparan sawah yang luas, ketundukan terasa utuh. Foto itu merekam kesederhanaan yang kuat: cangkul bersandar tanpa suara, motor terdiam, dan sujud-sujud sunyi yang menyatu dengan tanah.
“Banjir kemarin merusak padi kami,” ujar seorang petani Ujong Baroh seusai melipat alas salatnya. “Tetapi salat jangan sampai rusak juga. Kalau kami jaga salat, kami yakin Allah jaga rezeki,” tuturnya lirih.
Keyakinan itu tumbuh dari tanah yang tidak mudah ditaklukkan. Kabupaten Pidie dengan luas wilayah sekitar 314 ribu hektare memiliki bentang alam yang beragam. Wilayah ini didominasi punggung-punggung endapan yang tidak setangkap dan tererosi lebar, serta dataran banjir terjalin yang subur namun rentan tergenang saat hujan berkepanjangan.
Karakter geografis itulah yang menjadikan Pidie kaya hasil pertanian, sekaligus rawan bencana hidrometeorologi. Secara pedologis, tanah di Pidie didominasi kompleks podsolik merah kuning, latosol, dan litosol yang luasnya mencapai lebih dari 100 ribu hektare.
Tanah aluvial dan andosol yang subur tersebar di dataran rendah dan lembah sungai, menjadi tumpuan utama sawah rakyat. Kesuburan itu memberi kehidupan, namun juga menyimpan risiko ketika hujan turun tidak mengenal jeda.
Iklim Pidie, menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, berada pada kategori basah hingga sangat basah. Bulan hujan lebih dominan dibanding bulan kering. Kondisi ini menjadikan sawah-sawah selalu hijau, tetapi banjir mudah datang ketika daya dukung alam terlampaui.
Allah SWT berfirman. “Dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Ayat itu menemukan maknanya di tengah sawah Simpang Tiga. Dengan jumlah penduduk 444.898 jiwa, Kabupaten Pidie merupakan salah satu wilayah agraris utama di Aceh.

Data tahun 2023 mencatat, daerah ini memiliki lebih dari 1,2 juta batang tanaman hortikultura tahunan. Sekitar 615 ribu batang telah menghasilkan, dengan total produksi mencapai 294.213 kuintal. Pisang, melinjo, durian, rambutan, hingga mangga menjadi bagian dari denyut ekonomi rakyat.
Ketika banjir datang, yang terendam bukan hanya tanaman, tetapi juga dapur dan harapan. Sawah-sawah di Simpang Tiga di beberapa gampong (desa) sempat tenggelam, lumpur menutup benih, dan petani dipaksa memulai kembali dari awal. Namun kehidupan tidak berhenti. Tanah diratakan, benih ditanam ulang, dan doa tidak pernah ditinggalkan.
Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, SH, MH menyatakan bahwa kehidupan masyarakat berangsur normal. Pemerintah daerah mengerahkan sekitar 3.000 aparatur sipil negara (ASN) bersama warga gampong yang tidak terdampak untuk bergotong royong membersihkan sisa lumpur dan material banjir, terutama di wilayah Kembang Tanjong, Blang Pandak, Tangse, Mutiara Timur, dan Kecamatan Mutiara.
Namun di balik kerja kolektif, angka produksi, dan luas lahan pertanian, foto para petani yang bersujud di tepi sawah menyampaikan pesan yang lebih dalam. Bahwa ikhtiar manusia selalu berdampingan dengan kepasrahan kepada Tuhan.
Di atas lumpur yang mengering, para petani Pidie menegaskan satu hal: bencana boleh datang dan pergi, air boleh merendam sawah, tetapi keyakinan tidak ikut hanyut. Dari tanah yang subur itu, bukan hanya padi yang diharapkan tumbuh kembali melainkan juga harapan, kesabaran, dan iman yang tetap tegak.
Muhammad Riza











