BIREUEN (Waspada.id): Suara lirih Nur Fitri, 8, mengiris kesunyian tenda darurat di halaman Kantor Pemkab Bireuen menjelang penghujung Ramadhan 1447 Hijriah. Siswi sekolah dasar itu menuliskan isi hatinya pada kertas sederhana – sebuah surat terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, mengungkap kerinduan akan rumah dan kehidupan normal setelah empat bulan bertahan di pengungsian akibat banjir.
” Saya ingin kembali belajar dengan tenang di rumah sendiri dan merasakan suasana lebaran seperti anak-anak lain,” tulis Fitri dalam suratnya yang dibaca pada Kamis (19/3).
Setelah rumahnya hancur total akibat banjir, Fitri bersama keluarga tinggal di tenda yang tidak memberikan kenyamanan. Setiap hari, ia harus menghadapi suhu ekstrem – terik panas menyengat saat siang dan dingin menusuk di malam hari. Ketika hujan turun, rasa takut sering membuatnya menangis dalam diam.

“Kondisi di tenda jauh dari kata nyaman, terutama bagi kami anak-anak,” ungkapnya dalam surat yang menjadi potret nyata kondisi korban bencana di daerahnya.
Jelang Hari Raya Idul Fitri, harapannya semakin besar untuk bisa kembali ke rumah yang layak. Ia bahkan berjanji akan rajin belajar dan menjadi anak yang baik jika pemerintah dapat membantu membangun kembali rumahnya beserta rumah warga terdampak lainnya.
“Kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan perhatian agar kami bisa memiliki tempat tinggal layak seperti anak-anak lain,” tambahnya, menyampaikan permohonan mewakili teman-teman korban banjir di Bireuen.
Kisah Fitri terungkap setelah dua orang jamaah membicarakan nasib korban banjir yang akan merayakan hari raya di pengungsian, menjadikan tim Waspada.id terdorong untuk melihat langsung kondisi mereka di tengah cuaca yang panas saat itu. Sampai kini, puluhan keluarga masih bertahan di tenda darurat, menunggu kepastian untuk kembali hidup seperti sebelum banjir melanda.(id73)











