Aceh

Tgk H Irawan Abdullah, SAg, MM: Musibah Bagian Sunnatullah Dan Ujian Keimanan

Tgk H Irawan Abdullah, SAg, MM: Musibah Bagian Sunnatullah Dan Ujian Keimanan
Kecil Besar
14px

ACEH BESAR (Waspada.id): Ketua Nazhir Yayasan Waqaf Haroen Aly, Tgk H Irawan Abdullah SAg MM menegaskan, bahwa musibah dalam Islam tidak dimaknai sebagai penderitaan bagi orang beriman, melainkan sebagai bagian dari sunatullah berupa ujian keimanan dari Allah Swt.

Tgk Irawan Abdullah (foto) menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Besar Al-Jihad Kecamatan Montasik, Aceh Besar, (02/01/26), bertepatan dengan 13 Rajab 1447 Hijriah.

Menurutnya, Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an, setiap manusia pasti diuji dengan berbagai bentuk cobaan, seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil kehidupan. Ujian tersebut bukan tanda kebencian Allah, tetapi justru bentuk kasih sayang dan perhatian-Nya kepada hamba yang beriman.

“Musibah sarana penghapus dosa, penguji keteguhan iman, sekaligus jalan meninggikan derajat orang-orang yang sabar,” ujar Tgk. Irawan mengutip firman Allah Swt dalam QS Al-Baqarah ayat 155–157.

Dikatakan, sikap orang beriman saat ditimpa musibah adalah menyadari kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Kesadaran tersebut mendorong seseorang kembali mendekatkan diri kepada Allah Swt dan memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Musibah juga menjadi tolok ukur apakah keimanan hanya diucapkan dengan lisan atau benar-benar tertanam dalam hati, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-‘Ankabut ayat 2.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS Al-‘Ankabut: 2)

Dalam menghadapi musibah, Tgk. Irawan menekankan perlu memperbanyak amalan. Di antaranya istighfar dan taubat sebagai bentuk introspeksi diri, memperkuat shalat dan doa untuk ketenangan jiwa, memperbanyak sedekah sebagai pembuka pintu pertolongan Allah, dan membaca Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan penuntun hidup.

Ia juga mengomentari fenomena masyarakat di Sumatera, khususnya Aceh, yang menunjukkan keteguhan iman meski berada dalam kondisi sulit.

“Banyak orang tua bahkan anak-anak yang ketika ditanya apa yang mereka butuhkan, justru menjawab Al-Qur’an. Ini menunjukkan pondasi keimanan masyarakat Aceh masih terjaga,” ungkapnya.

Selain itu, Tgk. Irawan menilai sikap masyarakat yang tetap memuliakan tamu, termasuk jurnalis dan relawan yang datang membantu, dengan memberikan makanan atau minuman meski sedang tertimpa musibah, sebagai cerminan akhlak mulia orang beriman. Sikap ikramu dhuyuf tersebut dinilainya sebagai hasanah yang harus dipertahankan.

Lebih lanjut, ia menegaskan, sikap orang beriman dalam menghadapi musibah adalah sabar, ridha, dan berprasangka baik kepada Allah Swt. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil menjaga hati dari keluh kesah dan keputusasaan.

“Setiap musibah terjadi dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada-Nya, Allah akan menenangkan dan membimbing hatinya,” katanya mengutip QS At-Taghabun ayat 11.

“Setiap musibah terjadi dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada-Nya, Allah akan menenangkan dan membimbing hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ia berharap setiap musibah yang dialami umat Islam dapat menjadi cara semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt, meningkatkan ketundukan, dan memperkuat ketaatan dalam kehidupan sehari-hari, tutur Tgk Irawan yang juga mantan anggota DPRA dari Partai PKS itu. (id66)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE