Aceh

Tgk Rahmat Riski: Menggali Keutamaan Bulan Sya’ban, Momentum Persiapan Spiritual Menyambut Ramadhan

Tgk Rahmat Riski: Menggali Keutamaan Bulan Sya’ban, Momentum Persiapan Spiritual Menyambut Ramadhan
Kecil Besar
14px

ACEH BESAR (Waspada.id): Bulan Sya’ban memiliki keutamaan besar yang sering luput dari perhatian umat Islam, padahal bulan ini merupakan momentum mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Kepala Sekolah SDTQ Nurun Nabi Banda Aceh Tgk Rahmat Riski SAg MAg (foto) menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Buengcala Kecamatan Kutabaro Aceh Besar, Jumat (23/01/26), bertepatan dengan 4 Sya’ban 1447 Hijriah.

Ia menjelaskan, secara bahasa Sya’ban berasal dari kata syi‘ab yang berarti jalan di atas gunung, yang menggambarkan posisinya sebagai penghubung antara bulan Rajab dan Ramadhan.

“Sya’ban ibarat jalan menanjak menuju puncak kemuliaan Ramadhan. Karena itu, bulan ini sangat tepat dijadikan waktu meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki kesiapan ruhani,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban kerap terabaikan. Rajab dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, sementara Ramadhan menjadi bulan penuh ibadah dan ampunan. Akibatnya, Sya’ban sering dipandang sekadar bulan biasa.

Rasulullah saw dalam hadis riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i menyebutkan, bahwa Sya’ban bulan yang sering dilupakan manusia. “Yang dilupakan itu bukan karena Sya’ban tidak mulia, melainkan karena kurangnya kesadaran umat terhadap keutamaannya,” jelasnya.

Ia mengatakan, para ulama salaf justru memberikan perhatian besar terhadap bulan Sya’ban dengan memperbanyak ibadah, terutama pada pertengahan bulan atau nisfu Sya’ban.

Sekretaris Pengurus Wilayah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid ( PW-IPIM) Aceh ini juga mengungkapkan, bulan Sya’ban menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satunya adalah turunnya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad saw sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ahzab ayat 56.

“Mayoritas ulama tafsir menyebutkan ayat tersebut turun pada bulan Sya’ban. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Rasulullah saw di sisi Allah,” katanya.

Ia mengutip penjelasan Ibnu Katsir yang menyebutkan, shalawat Allah bermakna pujian, shalawat malaikat berupa doa, dan shalawat umat adalah permohonan keberkahan. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi.

Selain itu, bulan Sya’ban juga menjadi waktu ditetapkannya kewajiban puasa Ramadhan. Imam An-Nawawi menjelaskan, kewajiban tersebut ditetapkan pada tahun kedua Hijriah di bulan Sya’ban.

“Puasa adalah sarana mendidik jiwa dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, persiapan sejak Sya’ban akan sangat membantu umat menjalani Ramadhan dengan lebih optimal,” ujarnya.
Peristiwa penting lainnya peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram yang ditandai dengan turunnya Surah Al-Baqarah ayat 144. Menurut sebagian ulama, peristiwa ini terjadi pada malam nisfu Sya’ban.

“Peristiwa tersebut menegaskan makna tauhid, bahwa umat Islam hanya menyembah Allah Swt, bukan arah atau bangunan tertentu,” jelasnya.

Menutup khutbahnya, Da’i Perkotaan Dinas Syari’at Islam Banda Aceh ini, mengajak umat Islam menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum memperbaiki diri, memperbanyak zikir, shalawat, tobat, serta amal kebajikan.

“Sya’ban bukan sekadar pengantar Ramadhan, tetapi ladang persiapan agar Ramadhan dijalani dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap menerima rahmat Allah Swt,” pungkasnya.(id66)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE