Aceh

Udang Lokal Aceh Jadi Andalan Ketahanan Pangan Melalui Minapadi Terpadu di Aceh Jaya

Udang Lokal Aceh Jadi Andalan Ketahanan Pangan Melalui Minapadi Terpadu di Aceh Jaya
Hamparan lahan padi sistem minapadi di Desa Kedeunga, Kabupaten Aceh Jaya, yang mengintegrasikan budidaya padi, ikan nila, dan udang lokal yang telah memasuki tahap panen perdana pada Sabtu (24/1/2026). Waspada.id/Hulwa Dzakira
Kecil Besar
14px

ACEH JAYA (Waspada.id): Pengembangan udang pisang varietas lokal Aceh melalui sistem minapadi terpadu di Kabupaten Aceh Jaya mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Komoditas endemik pantai barat-selatan Aceh ini kini dibudidayakan di lahan sawah air tawar dengan teknologi adaptasi lingkungan, membuka peluang baru bagi penguatan ketahanan pangan dan ekonomi daerah.

Melalui program yang digagas Yayasan Halimun Al-Asyi, udang pisang (Penaeus simplex) yang selama ini hanya bergantung pada tangkapan laut, kini berhasil dikembangkan secara terintegrasi bersama padi dan ikan nila.

Tenaga ahli program, T. Ridwan, mengatakan inovasi ini menjadi terobosan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah produk perikanan Aceh.

“Udang pisang ini endemik Aceh. Harganya bisa dua kali lipat dibanding udang vaname. Kalau kita bisa produksi sendiri secara berkelanjutan, ini jadi kekuatan ekonomi daerah,” ujar Ridwan pasca panen perdana Padi Mina di Desa Keude Unga, Kecamatan Indrajaya, Aceh Jaya, Sabtu (24/1/2026).

Dalam sistem ini, benih udang pisang terlebih dahulu dibesarkan di kolam khusus sebelum dilepas ke sawah. Melalui rekayasa lingkungan berbasis teknologi, udang dibiasakan hidup di air tawar sejak usia dini.

Proses adaptasi tersebut memungkinkan udang tumbuh optimal tanpa kehilangan kualitas rasa dan tekstur yang menjadi ciri khas komoditas ini.

“Ini bukan sekadar budidaya biasa, tapi proses adaptasi bertahap agar udang laut bisa hidup stabil di sawah,” jelas Ridwan.

Selama ini, pasar budidaya udang nasional didominasi varietas impor seperti vaname. Kehadiran udang pisang lokal membuka peluang substitusi impor sekaligus menjaga kedaulatan pangan berbasis sumber daya daerah.

Ketua Yayasan Halimun, Anzar Aulia, menilai penguatan varietas lokal penting untuk menjaga kemandirian sektor perikanan.

“Kita punya kekayaan genetik sendiri. Jangan sampai kalah dengan produk luar. Udang lokal Aceh harus jadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Produksi udang lokal juga dinilai mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan protein berkualitas tinggi dari dalam negeri.

Dengan budidaya berbasis desa, distribusi pangan dapat dipersingkat dan kualitas tetap terjaga.

Selain aspek ekonomi, budidaya udang pisang juga berfungsi sebagai upaya konservasi plasma nutfah lokal Aceh yang mulai terdesak oleh ekspansi varietas asing.

Ke depan, lokasi percontohan di Aceh Jaya direncanakan berkembang menjadi pusat pembenihan udang pisang air tawar pertama di Aceh.

Yayasan Halimun bersama pemerintah daerah tengah menyiapkan skema pelatihan bagi petani dan pembudidaya.

“Kami ingin Aceh jadi pusat udang lokal nasional, bukan hanya pemasok mentah,” kata Anzar.

Program ini diharapkan menjadi model nasional dalam pengembangan komoditas perikanan berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat posisi Aceh dalam peta ketahanan pangan Indonesia. (Hulwa)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE