ACEH BESAR (Waspada.id): Perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sama sekali tidak menzalimi Allah dan tidak pula mengurangi sedikit pun keagungan-Nya. Ditaati atau tidak ditaati, dipatuhi atau didurhakai, Allah tetap Maha Agung dan Maha Sempurna. Karena itu, bukan Allah yang mengalami kerugian, tetapi manusia itu sendiri. Merekalah yang menzalimi diri mereka karena harus menanggung akibat dari kedurhakaan yang mereka lakukan.
Dosen STISNU, Ustazd Dr Mujtahid Anwar Lc MAg (foto) menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Besar Al Jihad Montasik, Aceh Besar, Jumat (16/01/26), bertepatan dengan 27 Rajab 1447 hijriah. Jika disebutkan tentang kezaliman, mungkin yang sering terbesit di benak kita adalah tindakan menzalimi orang lain, sampai kita lupa bahwa telah menzalimi diri sendiri. Padahal, Allah Swt juga menuntun kita untuk tidak menzalimi diri sendiri.
“Para ulama menyebutkan kezaliman terhadap diri sendiri secara umum ada dua bentuk. Pertama, dengan melakukan maksiat atau berbuat dosa. Kemaksiatan dianggap sebagai kezaliman karena memilih untuk menikmati kenikmatan yang sesaat dan mengorbankan diri untuk menerima azab dan balasan di akhirat,” urainya.
Oleh karena itu, redaksi doa nabi Adam AS ketika meminta ampun terhadap dosanya; ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.
Wakil Ketua IKAT Aceh ini menjelaskan, Allah Swt memberikan tuntunan khusus di bulan-bulan haram dengan tidak berlaku zalim terhadap diri sendiri (QS: Attaubah: 36). Para sahabat diantaranya, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan tuntunan tersebut mengatakan, kezaliman diharamkan sepanjang tahun, namun memiliki atensi khusus di bulan-bulan haram.
Rajab, selain bulan haram, juga bulan disyariatkannya ibadah shalat melalui peristiwa Agung, Isra’ dan Mi’raj. Meninggalkan shalat di bulan Rajab adalah bentuk kezaliman paling nyata, terlebih shalat merupakan salah satu tiang agama. Tren meninggalkan shalat merupakan fenomena yang sudah akut di masyarakat kita saat ini. Baik di kalangan anak muda maupun dewasa, meninggalkan kewajiban shalat seolah hal yang biasa.
“Yang lebih menyedihkan dalam kondisi ditimpa musibah, para pengungsi yang berlindung di masjid pun ada yang tidak melaksankan shalat. Mudah-mudahan, Isra’ Mi’raj yang lazim diperingati di penghujung Rajab menjadi momentum untuk kembali melaksanakan kewajiban shalat,” tegasnya.
Ustaz Mujtahid Anwar menambahkan, bentuk kezaliman yang kedua adalah menunda atau meninggalkan untuk berbuat kebaikan. Ibarat siswa, dia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan oleh ibu guru ketika ujian, tetapi dijawab 60 persen saja. “Dengan nilai tersebut dia naik kelas, tetapi menzalimi diri sendiri dengan tidak memanfaatkan kesempatan untuk mendapat yang lebih baik,” pungkasnya.(id66)










