Aceh

Ustadz Hasan Basri Ahmad: Kurban Simbol Pembebasan Manusia Dari Belenggu Materialisme

Ustadz Hasan Basri Ahmad: Kurban Simbol Pembebasan Manusia Dari Belenggu Materialisme
Kecil Besar
14px

ACEH BESAR (Waspada): Idealisme kurban dapat dimaknai sebagai simbol pembebasan manusia dari belenggu materialisme dan egoisme. Dalam kerangka pemikiran etika Islam, pengorbanan yang dilakukan dalam kurban merefleksikan usaha manusia menundukkan hawa nafsu dan mengedepankan nilai-nilai transendental dalam kehidupan.

Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ustadz Dr. H. Hasan Basri Ahmad, MA (foto) menyampaikan hal itu dalam khutbah Idul Adha di Masjid Baitul Maghfirah Gampong Payatieng Kecamatan Peukan Bada Aceh Besar, Jumat (06/06/25), bertepatan 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah.

Ustazd Dr. H. Hasan Basri menyampaikan, kurban yang ideal tidak hanya diukur dari kualitas hewan yang disembelih, tetapi lebih jauh menyangkut kualitas spiritual pelaksanaannya. Kurban ideal adalah kurban yang mampu menginternalisasi nilai-nilai ketulusan, solidaritas, dan ketaatan dalam kehidupan nyata, serta menjadi cermin dari kesadaran religius yang matang.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu nikmat yang banyak, maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban karena sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus dari nikmat Allah.” (Q.S. Al-Kautsar: 1-3)

Ia menguraikan lebih lanjut, bahwa qurban merupakan salah satu ritual ibadah dalam Islam yang memiliki kedalaman makna spiritual dan sosial. Praktik penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijjah ditambah tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) tidak hanya mencerminkan ketaatan ritualistik, melainkan juga mengandung nilai-nilai teologis dan sosiologis yang kompleks.

“Dalam konteks ini, istilah idealisme kurban dapat dimaknai sebagai pencapaian kesadaran religius tertinggi yang menempatkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Tuhan sebagai prinsip utama,” tegasnya.

Ustazd Dr. H. Hasan Basri menjelaskan, secara historis, perintah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada perintah Allah menjadi simbol utama dari makna idealisme kurban.

Dalam Surah Al-Hajj ayat 37, ditegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Dengan ayat ini kita pahami, esensi qurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan, bukan pada aspek lahiriah semata.

Ustadz Dr. H. Hasan Basri menambahkan, dari perspektif teologis, qurban merepresentasikan hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya (hablum minallah), sementara dari dimensi sosial, qurban berfungsi sebagai sarana distribusi keadilan dan solidaritas sosial (hablum minannas). “Pembagian daging kurban kepada fakir miskin mengandung prinsip keadilan distributif yang sangat relevan dalam konteks pengentasan kemiskinan,” pungkas PW Muhammadiyah Aceh ini.(b02)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE